Akhir september lalu, Kak Ollie dalam twitternya @salsabeela menuliskan bahwa ia akan membagikan e-book bab pertama buku barunya secara cuma-cuma. Meski hanya akan mendapatkan bab 1, saya sangat antusias untuk segera memenuhi langkah-langkah untuk mendapatkannya. Soalnya judul buku tersebut bikin penasaran. Passport To Happiness. Lucu ya, jadi pengen tahu apa benar untuk menuju kebahagiaan kita perlu passport segala.
Sabtu lalu saya akhirnya ke Pasar Santa juga. Berawal dari berdirinya ABCD Coffee di sana yang kemudian dibicarakan banyak orang, kios-kios lain yang menawarkan beragam makanan hingga barang-barang terkait hobi pun susul menyusul bermunculan di area sekitarnya. Pasar itu semakin ramai dikunjungi namun hanya pada lantai atas saja, di mana budaya baru anak muda menawarkan kreativitas kian berkembang. Anak jaman sekarang yang hobi ke mall pun kini telah banyak yang tak ragu main di pasar. Tapi ramainya Santa tak berdampak positif bagi pedagang lama yang notabene menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari. Saya menjadi gusar mendengar dan membaca mengenai pedagang lama di sana yang harus pindah karena harga sewa kios yang melambung akibat booming-nya permintaan. Tarif sewa kios yang baru berat bagi mereka. Saya merasa getir jika sumber nafkah para pedagang tersebut terganggu, sementara saya bersenang-senang di sana. Tentu kita tahu berdagang dengan cara tradisional itu tak mudah. Mereka belum mengenal branding, packaging maupun publikasi melalui media sosial sebagaimana kaum kreatif yang bermigrasi ke sana. Hal itulah yang membuat saya enggan ke Pasar Santa.
Kegusaran saya tersebut mereda seusai membaca post blog The Dusty Sneakers yang berjudul A Remedy for Loneliness. Artikel tersebut mengajak saya untuk merasakan bagaimana rasanya mendengarkan orang-orang antusias membicarakan buku yang mereka suka. Sesampainya pada paragraf terakhir, saya melihat link artikel mereka mengenai Our POST at Pasar Santa. Jujur saya katakan bahwa saya telat banget tahu jika The Dusty Sneakers adalah founder POST, hehe. Memang saya kemarin baru pulang dari goa sih. Semoga dimaklumi ya ketidaktahuan ini. Lalu saya meninggalkan komentar pada artikel tersebut, menceritakan mengenai kegusaran saya terhadap Pasar Santa. Voila! Komentar saya dijawab dengan sangat memuaskan oleh mereka.
Saya ingat sekali saat itu hari Kamis. Seusai mendengar jawaban itu, saya langsung mengajak teman-teman untuk pergi ke Pasar Santa. Saya ingin tahu di POST ada buku apa saja. Pasti semuanya saya belum kenal karena buku yang saya baca sebagian besar adalah buku-buku yang dijual di toko buku besar. Akhir-akhir ini saya memang sedang ingin membaca banyak buku karena sedang terganggu oleh tulisan Haruki Murakami dalam Norwegian Woods. “If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.”
Bagi yang belum tahu, POST merupakan tempat yang memberikan pilihan bacaan-bacaan bagus bagi para penggemar buku. Buku yang ada di sana biasanya tak ada di toko-toko buku besar. Selain itu sesekali diadakan gathering aneka creative events di sana. Kadang berupa diskusi atas suatu buku, event menulis di pasar, atau aneka event kreatif lainnya. POST didirikan oleh duo The Dusty Sneakers (Mas Teddy dan Mba Maesy) bersama dengan rekan mereka, Steven. Kita bisa leluasa membaca buku yang tersedia di kios 2x4 meter persegi itu dengan nyaman. Jangan sungkan untuk meminta rekomendasi dari Mas Teddy atau Mba Maesy saat melihat-lihat buku di sana. Membaca buku di pasar ini sepertinya akan berkembang di waktu mendatang. Bisa dikatakan POST merupakan pelopor konsep ini.
Sabtu siang sebelum berangkat saya iseng membuka twitter @POST_Santa dan mendapati agenda POST hari itu yang sangat seru, jadi pengen segera sampai ke Pasar Santa. Kira-kira buku pilihan saya di #POSTblinddatewithabook judulnya apa dan karya siapa ya nantinya.
Sabtu siang sebelum berangkat saya iseng membuka twitter @POST_Santa dan mendapati agenda POST hari itu yang sangat seru, jadi pengen segera sampai ke Pasar Santa. Kira-kira buku pilihan saya di #POSTblinddatewithabook judulnya apa dan karya siapa ya nantinya.
Meski pembangunan Jalan Layang Wolter Monginsidi sedang dalam proses pengerjaan, syukurlah Pasar Santa masih cukup ramai. Sayangnya ABCD Coffee tutup hari itu. Tanpa terdistraksi kios lainnya kami berhasil langsung menuju POST. Di sana ternyata ada Mas Farchan dari Efenerr.com bersama istri. Keberadaan Mas Farchan mengikis kekikukkan saya.
Saya langsung dikenalkan dengan Mas Teddy yang menyempatkan mengobrol singkat dengan kami meski sedang sibuk wara wiri. Lalu Mas Farchan juga mengenalkan saya pada Mba Maesy. Semua terasa lebih mudah dan lancar karena nggak sengaja ketemu Mas Farchan di sana. Saya melihat-lihat buku yang dipamerkan di POST. Sudut #POSTblinddatewithabook menjadi sasaran pertama kami. Setelah membaca semua quotes pada bungkusan buku berwarna coklat, akhirnya saya sudah memutuskan mau ambil yang mana. Teman saya meledek bahwa pilihan saya adalah Chicken Soup! Saya langsung menyanggahnya, mana ada Chicken Soup di POST, kan? Saya jadi curiga jika dia pembaca aneka genre Chicken Soup. Hahaha.
Saya langsung dikenalkan dengan Mas Teddy yang menyempatkan mengobrol singkat dengan kami meski sedang sibuk wara wiri. Lalu Mas Farchan juga mengenalkan saya pada Mba Maesy. Semua terasa lebih mudah dan lancar karena nggak sengaja ketemu Mas Farchan di sana. Saya melihat-lihat buku yang dipamerkan di POST. Sudut #POSTblinddatewithabook menjadi sasaran pertama kami. Setelah membaca semua quotes pada bungkusan buku berwarna coklat, akhirnya saya sudah memutuskan mau ambil yang mana. Teman saya meledek bahwa pilihan saya adalah Chicken Soup! Saya langsung menyanggahnya, mana ada Chicken Soup di POST, kan? Saya jadi curiga jika dia pembaca aneka genre Chicken Soup. Hahaha.
Selain itu saya juga membawa pulang satu used-book yang menggugah rasa ingin tahu saya, Butterfly Economics dari Paul Ormerod. I am suck at accounting, but I do love reading a book about economy. Sampai saat ini baru saya baca beberapa lembar awal. Sepertinya buku ini akan mengawali minat saya berburu buku yang membicarakan ekonomi, di luar buku penunjang tugas kuliah.
Saya suka dengan kehangatan orang-orang di POST. Apalagi ownernya, tanpa sungkan mereka akan berbaik hati menyapa pelanggan dan jika kalian bingung mau baca buku apa, maka silahkan minta rekomendasi mereka mengenai buku apa yang kira-kira akan menarik minat kalian.
Saat ngobrol dengan Mba Maesy akhirnya terkonfirmasi bahwa tak ada Chicken Soup dalam #POSTblindatewithabook! Buku yang disampul coklat dengan rapi dalam blind date ini ada 9. Jumlah buku tersebut bukan berdasarkan filosofi tertentu, tapi ternyata ada 9 karena The Dusty Sneakers baru selesai membungkus sejumlah itu aja. Tentu saya memaklumi kesibukan mereka. Terima kasih, tema blind date hari itu memunculkan curiousity saya yang hampir sirna digerogoti rutinitas. Kata Mba Maesy mereka sedikit kesulitan dalam bungkus membungkus ini. Dengan humble-nya Mba Maesy bahkan minta maaf apabila bungkusannya dirasa tidak rapi. Padahal sudah rapi lho Mbaa. Kalau saya yang membungkus, hasilnya bisa lebih parah.
Kami bergegas menuju tempat makan di Pasar Santa supaya dapat meja dan segera tahu siapakah blind date yang kami pilih. Sambil makan gelato, kami tertawa girang. Serotonin mengalir karena rasa penasaran dan kebanggan atas pilihan teman kencan masing-masing. Rasanya seperti baru memutuskan suatu pilihan hidup yang luar biasa.
Dan, pilihan kami dari kencan buta ini adalah...
Berkebalikan, buku yang dipilih kawan saya tentang musik dan anak orang kaya, sedangkan buku yang saya pilih tentang orphaned children, THE THIEF LORD oleh Cornelia Funk. Saya baru sempat membaca halaman-halaman awal juga. Cara deskripsi ceritanya sangat bagus. Saya rasa saya akan banyak belajar cara bercerita dari situ.
"Children are caterpillars and adults are butterflies. No butterfly ever remembers what it felt like being a cartepillar" -Quotes yang membuat saya memilih Saturday Date's saya-
Selain gelato dari Tukang Eskrim, saya juga mencoba Takoyaki yang lumayan enak. Nah, beginilah kami menghabiskan senja Sabtu kemarin. Saya berencana akan kembali lagi ke POST Sabtu depan.
Catatan harian biasanya merupakan tempat curahan hati masalah pribadi yang tidak dapat diungkapkan pada orang lain. Sehingga kadang isinya adalah hal-hal galau yang dialami seseorang. Saya tidak tahu entah mengapa catatan harian selalu diidentikkan dengan hal demikian. Namun ada salah satu catatan harian yang secara apik ditulis dengan rutin oleh si Empunya. Catatan terseput menginspirasi para pemuda hingga masa kini, puluhan tahun setelah si pencatat meninggal.
Ia meninggal di usia yang masih sangat muda, pada umur 27 tahun kurang sehari di puncak gunung tertinggi di Jawa, Mahameru. Bagaimana sesosok anak muda yang demikian cepat meninggalnya namun gaung namanya masih terdengar di mana-mana? Tentu karena catatan hariannya. Adalah Soe Hok Gie, seorang pemuda Indonesia yang sedari SMP telah menulis catatan harian meski kala itu belum rutin. Dari catatannya inilah jejak terserak tentang dirinya yang memang keberadaannya sudah diketahui banyak orang karena sering menulis di berbagai media massa kala itu, semakin kentara. Tulisannya menginspirasi para kaum muda di mana-mana.
Mengapa Soe Hok Gie meninggal di atas gunung? Dalam pengantar buku ini, salah satu orang yang mengenalnya menyatakan bahwa bersatu dengan alam, menikmati udara segar pegunungan adalah obat kekecewaan atas kondisi yang masih terjadi. Sehingga ia suka mendaki gunung di sela-sela kesibukannya dan bahkan membentuk mapala (mahasiswa pecinta alam) di FSUI, tempatnya kuliah. Soe Hok Gie menginginkan supaya pemerintah setia pada cita-cita pembangunan dan setia pada rakyatnya. Namun kondisi pemerintahan pada Masa Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto ternyata masih ada bagian yang kurang sesuai. Di mata saya, ia bukannya tidak mendukung pemerintah, justru ia menjaga supaya pemerintah tetap berada pada jalur yang tepat. Sehingga terus menulis pemikiran dan kritikannya pada media massa supaya didengar. Memang di situlah peran pemuda. Jika pemerintah sudah kebablasan, barulah pemuda bisa membuat pergerakan untuk menuntut apa yang semestinya menjadi hak bangsa ini. Revolusi, orde baru dan reformasi semuanya muncul di negara tercinta kita oleh peran pemuda. Maka jangan pernah remehkan peran pemuda pada setiap masa. Di masa kini sebagian pemuda galau-galauan tentang cinta, sebagian lain menjadi kaum hippies dan yang lainnya lagi menjadi pemuda pemudi berprestasi dan selalu produktif berkarya. Semua tidak ada yang salah, setiap orang berhak mengambil perannya sendiri. Mau berperan jadi pemuda yang mana adalah pilihan kita masing-masing. :)
Tenang saja, kita tidak akan mendapati bacaan mengenai arahan untuk berdemonstrasi. Buku Catatan Seorang Demonstran ini murni merupakan catatan harian Soe Hok Gie dengan pengantar dari beberapa pihak pada bagian awal dan akhir buku yang akan membantu kita untuk lebih mengerti mengenai isi buku harian tersebut, atau sekadar memberikan pandangan lain tentang isi buku karena bisa jadi pandangan kita berbeda dengan perspektif para komentator. Bagi saya sendiri, Soe Hok Gie bukanlah pemberontak. Sama sekali tidak ada provokasi dari catatan hariannya itu.
Di dalamnya pun terdapat cerita tentang masalah asmara para mahasiswa. Soe Hok Gie mengalami hal yang cukup pahit mengenai hal ini. Padahal dengan karakternya yang demikian tegas dan orangnya yang demikian menyenangkan, saya rasa saya sendiri bisa saja jatuh hati padanya. hehehe :p
Jika ditanya siapa saja yang tepat untuk membaca buku ini maka jawaban saya adalah pemuda, namun terdapat sedikit kekhawatiran dari pribadi saya jika para pemuda yang membaca buku ini adalah orang yang arogan. Bisa jadi ia hanya melihat aksi yang dilaksanakan Soe Hok Gie tanpa memahami filosofi kenapa ia sampai melakukan hal tersebut. Sedangkan para pelajar sekolah menengah perlu membaca buku ini dengan bimbingan orang tua. Sebenarnya buku ini layak dibaca semua kalangan dan bahkan orang dewasa. Karena dari buku ini kita dapat melihat betapa produktifnya keseharian Soe Hok Gie. Energi produktifnya saya yakin akan menular kepada si pembaca. Barangkali dengan membacanya kita akan mengurangi kegiatan yang kurang berdaya guna dalam keseharian kita.
Soe Hok Gie mendedikasikan dirinya untuk idealisme, organiasasi dan kemanusiaan tanpa takut mengkritik siapa saja yang memang dirasa melanggar idealisme dan kemanusiaan, entah itu pejabat atau bahkan rekannya sendiri. Ia pun tak sungkan membela atas apa yang semula ia kritisi jika implementasinya melanggar hak asasi manusia atau melanggar asas kemanusiaan. Kejujuran dan kelurusan semacam ini kian minim di masa sekarang. Kita tak harus menjadi kritikus, cukup mengilhami untuk kembali jujur pada idealisme dan kemanusiaan dulu.
Memang beberapa pihak bisa merasa buku ini bagaikan buku silat karena seolah Soe Hok Gie dan rekannya yang paling benar dan apa yang mereka lakukan niscaya akan tercapai tujuannya. Namun hendaknya kita tidak melihat dari sisi itu saja. Inspirasi mengenai bagaimana seseorang pemuda berperan dalam pergerakan kemajuan suatu bangsa perlu disadari oleh pemuda masa kini. Tak berarti pemuda masa kini tidak memiliki semangat itu, tapi saya rasa banyak yang lupa pada idealisme, kemanusiaan dan yang terpenting kejujuran. Aksi mahasiswa seperti masa 66 pada buku ini patut menjadi inspirasi supaya mahasiswa masa kini bergerak bukan karena ego pribadi atau bahkan dibayar. Bergeraklah untuk kepentingan rakyat, kepentingan bangsa.
Sedangkan saya sendiri belajar tentang bagaimana membuat kegelisahan dari keruwetan supaya mendesak kita menjadi seorang yang dinamis. Lalu saya jadi ingat bahwa saya sudah jarang membaca. Saya sangat iri pada hok Gie yang telah membaca karya-karya hebat dalam bentuk buku sedari SMP. Apabila saya serajin itu dalam membaca tentu saya tidak akan sebodoh ini. Hehehe. Setelah membaca buku ini saya segera membaca apapun yang ada di kamar yang belum terbaca. Buku dan majalah semua saya lahap. Otak saya haus akan sesuatu yang berisi dan bermanfaat. Selain itu saya juga belajar bagaimana ia tidak mengambil tendensi pribadi dalam menyelesaikan masalah organisasi.
Buku ini memang sudah lama sekali terbitnya. Saya menunda-nunda untuk membacanya karena khawatir saya tersulut semangat Hok Gie dan belum siap untuk membentur-benturkan aneka pikiran yang ruwet yang akan muncul di otak ketika membacanya. Namun terbukti saya salah, justru saya mendapat pencerahan di sana. Saya mendapatkan cara baru untuk mengatasi kegelisahan tak berdasar saya. Apa yang menjadi sumber kehawatiran saya kemudian saya uraikan dan rekonstruksi ulang untuk mendapatkan pemahaman yang sesuai dan yang dapat saya terima. Seusai itu saya tak memaksakannya pada orang lain, saya memakainya untuk diri saya sendiri, tentu dengan suka rela saya akan membagi ceritanya pada yang bertanya. Namun yang jelas, nantinya jika ada benturan baru, maka saya siap menyambutnya, memeluknya dan melihat apakah saya perlu menambahkan pada pemahaman saya yang lalu atau tinggal menjadikannya sebagai wawasan dan perspektif lain saja. Saya tidak terlalu cemas lagi, karena secara mendasar saya sudah selesai dengan ke-insecure-an saya pribadi.
Bagi yang masih ada di bangku sekolah dan perguruan tinggi, saya sarankan untuk membaca buku ini. Kita akan menemukan bagaimana nikmatnya berorganisasi dan bagaimana menjadi dewasa melalui organisasi. Bagi orang tua, alangkah baiknya jika membaca juga, supaya tetap dinamis, dan dapat membimbing anaknya yang barangkali membutuhkan bantuan dari Anda.
Menulislah, maka ketika kita tidak ada, masih ada manfaat yang bisa diambil orang lain dari tulisan kita. Sehingga seolah ruh kita masih hidup dan menularkan energi-energi positif kepada orang yang membacanya. Seusai membaca buku ini, saya jadi rajin mencatat hal-hal yang saya alami. Ternyata hal ini bermanfaat untuk mengurangi ruwetnya pikiran. Satu buku ini saja sudah menggerakkan demikian banyak hal (membaca, menulis dan menjadi produktif) yang saya suka namun tadinya terlupakan karena saya terlena oleh keseharian . Ayo pemuda jangan terlena, mari menjadi produktif juga sebagaimana Soe Hok Gie yang selalu dinamis hingga akhir hayatnya.
Salam.
Sejalan dengan program "banyak baca mumpung masih jadi mahasiswa", maka saya akan menuliskan buku yang baru saya baca di blog ini. Buku lama maupun baru akan saya bahas keduanya atau sekadar saya catat quotesnya yang mengena bagi saya, siapa tau menginspirasi atau bermanfaat bagi orang lain. Selain itu juga supaya saya bisa menghitung dan mengingat buku-buku apa saja yang pernah saya baca.
Don't judge a book by it's cover, merupakan pesan sederhana yang saya coba ingat setiap waktu. Tapi sebagai manusia tentu kita kadang lupa untuk tidak menjudge sesuatu berdasar wujud luarnya. Jadi, beberapa tahun yang lalu ada yang merekomendasikan buku Dunia Sophie ini, tapi tidak menyebutkan isinya tentang apa, hanya dikatakan recommended dan bagus banget. Maka saya yang pikirannya auto pilot menyimpulkan bahwa Dunia Sophie adalah sebuah novel fiksi, karena sampulnya warna hitam dengan ilustrasi seorang gadis yang seolah berada di tengah hutan. Saya pikir ceritanya sejenis Alice in Wonderland. Waktu itu sama sekali tidak tertarik untuk membacanya.
Don't judge a book by it's cover, merupakan pesan sederhana yang saya coba ingat setiap waktu. Tapi sebagai manusia tentu kita kadang lupa untuk tidak menjudge sesuatu berdasar wujud luarnya. Jadi, beberapa tahun yang lalu ada yang merekomendasikan buku Dunia Sophie ini, tapi tidak menyebutkan isinya tentang apa, hanya dikatakan recommended dan bagus banget. Maka saya yang pikirannya auto pilot menyimpulkan bahwa Dunia Sophie adalah sebuah novel fiksi, karena sampulnya warna hitam dengan ilustrasi seorang gadis yang seolah berada di tengah hutan. Saya pikir ceritanya sejenis Alice in Wonderland. Waktu itu sama sekali tidak tertarik untuk membacanya.
Libur akhir tahun lalu saya fokus istirahat total mau detox, nggak makan nasi sama sekali, jadi tidak boleh jalan-jalan jauh yang menguras tenaga. Maka saya pun mengunjungi rumah teman saya yang mana hanya berjarak satu rumah dari rumah saya untuk pinjam buku. Di sana saya meminjam beberapa buku tebal yang salah satunya buku Dunia Sophie. Sebelumnya saya tanya dulu ke teman saya mengenai buku ini, ceritanya tentang apa sih, teman saya menjawab isinya tentang filosofi. Saya pun langsung tertarik dan tidak berpikir panjang, meski bukunya sangat tebal, tetap saya pinjam. Setelah menyelesaikan The Alchemist, saya beralih ke buku ini. Ternyata dari awal membacanya saya sudah suka dan penasaran untuk terus membacanya, saking semangatnya hingga sekali baca sudah sampai seperempat bagian dari buku tebal ini. Namun apa daya setelah itu jadwal rutin harus kembali saya dijalani, efeknya adalah Dunia Sophie nggak selesai-selasai dibaca karena memang susah membaca buku ini tanpa konsentrasi. Sayang banget kalau baca buku ini tanpa paham isinya. Meskipun ceritanya tentang filosofi, namun sama sekali tidak berat, bahkan bisa dikatakan mudah dicerna karena seolah kita hanya mendengarkan obrolan Sophie dengan seseorang. Akhirnya saya selesai membacanya setelah 3 atau 4 minggu, sehari baisanya cuma bisa baca satu bab yang isinya cerita dari satu tokoh aja.
Diceritakan bahwa Sophie Amundsend seorang gadis 14 tahun yang akan segera berulang tahun ke-15 tiba-tiba mendapatkan surat misterius yang sederhana namun membuatnya bertanya-tanya. Misalnya hanya berisikan "Siapa aku?". Nah apakah kalian pernah memikirkan hal semacam itu juga di umur sekarang? Apakah kita adalah diri kita yang sebenarnya ataukah hanya cara berpikir kita yang membentuk diri kita yang sebenarnya? Haha banyak pertanyaan yang akan ikut muncul sembari membaca lembar demi lembar buku ini. Kita juga akan dibawa untuk menjelajah dalam estafet ilmu pengetahuan sejak zaman Plato, Socrates, Aristoteles bahkan sampai dengan ahli filosofi kekinian yang nama-namanya juga tak akan asing bagi penyuka quotes-quotesnya Immanuel Kant, Karl Max hingga si fenomenal Darwin.
Saya tidak akan menuliskan sinopsis buku ini karena saya rasa sudah banyak yang menuliskannya jika digoogling. Saya juga tidak akan mengomentari isinya atau jalan ceritanya karena saya sudah sangat berterima kasih ada penulis yang peduli dengan dunia filosofi dan mau repot-repot menyusun dan mengemasnya secara sederhana dan menarik dalam suatu buku cerita. Sedikit spoiler, meski banyak tokoh real yang berpengaruh dalam dunia filsafat, kita akan dibuat terkejut karena ada tokoh fiksi seperti gadis berkerudung merah dan gadis penjual korek api. Banyak humor fisolofis yang terselip dalam cerita.
Saya akan memberikan beberapa poin dari buku ini yang sebenarnya adalah bagian penting yang saya tandai ketika membacanya, bagian yang sangat menarik bagi saya dan perlu dicerna lebih pelan karena sangat padat, jika cocok bagi teman-teman maka saya rasa kalian harus melirik buku ini juga :D
Saya akan memberikan beberapa poin dari buku ini yang sebenarnya adalah bagian penting yang saya tandai ketika membacanya, bagian yang sangat menarik bagi saya dan perlu dicerna lebih pelan karena sangat padat, jika cocok bagi teman-teman maka saya rasa kalian harus melirik buku ini juga :D
"Tidak terlalu lama setelah St. Thomas Aquinas, keretakan mulai timbul pada kebudayaan penyatu agama Kristen. Filsafat dan ilmu pengetahuan semakin menjauh dari teologi Gereja, dan dengan demikian memungkinkan kehidupan agama sampai pada hubungan yang lebih bebas dengan penalaran. Kini semakin banyak orang yang menekankan bahwa kita tidak dapat sampai kepada Tuhan melalui rasionalisme, sebab Tuhan sama sekali tidak dapat dikenali. Yang penting bagi manusia bukanlah memahami misteri Ilahi, melainkan pasrah pada kehendak Tuhan."
"Karena agama dan ilmu pengetahuan kini dapat berhubungan secara lebih bebas satu sama lain, terbukalah jalan pada metode-metode ilmiah baru dan semangat keagamaan yang baru pula. Maka, terciptalah landasan bagi dua kehebohan besar pada abad kelima belas dan keenam belas, yaitu Renaisans dan Reformasi." halaman 307
"Pada zaman Renaisans, apa yang kita namakan antihumanisme pun berkembang. Dengan ini yang aku maksudkan adalah kekuasaan otoriter Negara dan Gereja. Pada masa Renaisans, berkobar keinginan untuk mengadili para wanita penyihir, membakar para penganut bid'ah, sihir dan takhayul, perang-perang keagamaan yang bersimbah darah dan--yang tidak kalah dari semua itu, penaklukan yang sangat kejam atas Amerika. Tapi, humanisme selalu mengandung sisi gelap. Tidak ada zaman yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Kebaikan dan keburukan adalah benang kembar yang menjalin sejarah umat manusia. Dan seringkali keduanya saling berkait. Ini berlaku dalam kata kunci kita selanjutnya, yaitu metode ilmiah baru, inovasi Renaisans lainnya yang akan kuceritakan padamu." (314-315)
"Tidak, tapi itu menekankan kenyataan bahwa pikiran bukanlah benda yang dapat dioperasi atau dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Tidak mudah, misalnya, untuk menghilangkan angan-angan melalui operasi. Itu terlalu jauh untuk bidang operasi. Seorang filosof penting dari abad ketujuh belas bernama Leibniz mengemukakan bahwa perbedaan antara yang material dan yang spiritual sesungguhnya adalah bahwa yang material dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sedangkan jiwa bahkan tidak dapat dibagi dua." (364)
"Tapi Descrates berusaha untuk melangkah maju dari ririk nil ini. Dia meragukan segala sesuatu, dan hanya itulah yang dia yakini. Namun, kemudian ia menyadari sesuatu: satu hal pasti benar, dan itu adalah bahwa ia ragu. Ketika dia ragu, dia pasti sedang berpikir, dan karena dia berpikir, pastilah bahwa dia seorang makhluk yang berpikir. Atau, seperti dia sendiri mengungkapkannya: Corgito, ergo sum."
"Yang berati?"
"Aku berpikir, karena itu aku ada." (373)
"Metode geometris mengacu pada terminologi yang digunakannya untuk rumusan-rumusannya. Kamu mungkin ingat bagaimana Descrates ingin memanfaatkan metode matematika bagi perenungan filosofis. Dengan ini yang dimaksudkannya adalah suatu bentuk perenungan filosofis yang tercipta dari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar logis. Spinoza adalah bagian dari tradisi rasionalistik yang sama. Dia ingin etikanya dapat membuktikan bahwa kehidupan manusia itu tergantung pada hukum alam yang universal. Oleh karena itu, kita harus membebaskan diri dari perasaan dan nafsu kita. Setelah itu, barulah kita dapat menemukan kepuasan hati dan kebahagiaan, dia yakin." 391
"Jadi kamu adalah salah satu orang yang merasakan sakit perut pada suatu saat dan sedang berpikir pada saat selanjutnya. Spinoza menyatakan bahwa seluruh benda material dan segala sesuatu yang terjadi di seputar kita merupakan ungkapan Tuhan atau alam. Maka, semua pikiran yang kita pikirkan juga milik Tuhan atau alam. Sebab segala sesuatu itu Satu. Hanya ada satu Tuham, satu alam, atau satu Substansi." 394
"Sepanjang sejarah filsafat, para filosof berusaha untuk menemukan apakah manusia itu, atau apakah hakikat manusia itu. Tapi, Sartre percaya bahwa manusia tidak mempunyai 'hakikat' kekal semacam itu yang dapat dijadikannya sandaran. Karena itulah tidak ada gunanya untuk mencari makna dari kehidupan pada umumnya. Kita memang ditakdirkan untuk membuatnya sendiri. Kita seperti aktor-aktor yang diseret ke atas panggung tanpa mengetahui peran kita, tanpa naskah dan tanpa juru bisik yang akan membisikkan kepada kita apa yang harus kita lakukan di atas panggung. Kita harus memutuskan sendiri bagaimana cara kita hidup." 702
"Jika kamu jatuh cinta, dan sedang menantikan kekasihmu meneleponmu, kamu mungkin 'mendengar'-nya tidak meneleponmu semalaman. Kamu berencana untuk bertemu dengannya di kereta, orang ramai berjubel di peron dan kamu tidak dapat melihatnya di mana-mana. Mereka semua menjadi penghalang, mereka tidak penting bagimu. Kamu mungkin menganggap mereka tidak menyenangkan, bahkan menjengkelkan. Mereka mengambil ruang terlalu banyak. Satu-satunya yang kamu perhatikan adalah bahwa dia tidak ada di sana." 707
Udah, itu aja poin-poin yang saya tandai dan penandanya belum ilang, hal-hal yang saya harus ingat agar tetap waras, hihi ^^
Salam
"Jadi kamu adalah salah satu orang yang merasakan sakit perut pada suatu saat dan sedang berpikir pada saat selanjutnya. Spinoza menyatakan bahwa seluruh benda material dan segala sesuatu yang terjadi di seputar kita merupakan ungkapan Tuhan atau alam. Maka, semua pikiran yang kita pikirkan juga milik Tuhan atau alam. Sebab segala sesuatu itu Satu. Hanya ada satu Tuham, satu alam, atau satu Substansi." 394
"Sepanjang sejarah filsafat, para filosof berusaha untuk menemukan apakah manusia itu, atau apakah hakikat manusia itu. Tapi, Sartre percaya bahwa manusia tidak mempunyai 'hakikat' kekal semacam itu yang dapat dijadikannya sandaran. Karena itulah tidak ada gunanya untuk mencari makna dari kehidupan pada umumnya. Kita memang ditakdirkan untuk membuatnya sendiri. Kita seperti aktor-aktor yang diseret ke atas panggung tanpa mengetahui peran kita, tanpa naskah dan tanpa juru bisik yang akan membisikkan kepada kita apa yang harus kita lakukan di atas panggung. Kita harus memutuskan sendiri bagaimana cara kita hidup." 702
"Jika kamu jatuh cinta, dan sedang menantikan kekasihmu meneleponmu, kamu mungkin 'mendengar'-nya tidak meneleponmu semalaman. Kamu berencana untuk bertemu dengannya di kereta, orang ramai berjubel di peron dan kamu tidak dapat melihatnya di mana-mana. Mereka semua menjadi penghalang, mereka tidak penting bagimu. Kamu mungkin menganggap mereka tidak menyenangkan, bahkan menjengkelkan. Mereka mengambil ruang terlalu banyak. Satu-satunya yang kamu perhatikan adalah bahwa dia tidak ada di sana." 707
Udah, itu aja poin-poin yang saya tandai dan penandanya belum ilang, hal-hal yang saya harus ingat agar tetap waras, hihi ^^
Salam
Pagi ini saya baru menyelesaikan sebuah buku ilustrasi yang sangat menarik. Penulisnya adalah Diana Rikasari yang sudah lumayan lama saya follow blognya, jadi bisa lah ya kalau saya ngaku-ngaku udah sedikit tahu bagaimana positifnya Diana dalam menyikapi hal-hal yang dihadapinya. Pengen nggak sih jadi seorang cewek yang selalu happy seperti Diana? Selain itu setiap melihat post tentang outfit Diana yang quirky jadi inget bahwa "every girl must be having fun". Bisa dikatakan Diana Rikasari memang sangat menginspirasi.
Awalnya ketika buku ini terbit akhir tahun lalu saya urung membeli karena harganya yang sesuai namanya 88k, hehe. Waktu itu mikirnya mending beli buku lain dulu deh. Beberapa bulan terakhir saya memang sedang getol membaca, terutama buku filosofi atau buku karya penulis legendaris. Biasanya ketika ke toko buku saya sengaja hanya membeli buku karya seorang penulis yang sudah saya incar, misalnya saat ini saya sedang mengincar karya Paulo Coelho melulu. Berhubung Desember saya sudah beli 3 buku maka saya mengurungkan niat untuk membawa pulang buku pink yang sangat mengundang perhatian ini. Namun akhirnya tadi malam ketika saya ke Gramedia Bintaro Plaza saya langsung memutuskan harus beli buku ini, karena buku ini akan sangat pas untuk saya (dan sebenarnya untuk semua wanita siapapun dia :p), semacam investasi untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Lagi pula bulan ini baru beli satu buku. Lalu saya iseng cek penukaran Telkomsel Poin dengan voucher diskon Gramedia (lagi). Sebelum ini saya sudah membawa pulang buku Paulo Coelho gratis dengan voucher tersebut. Namun ternyata malam tadi poin saya belum mencukupi untuk ditukar lagi, hahaha. Alhamdulillah my dearest Akmal mau berbaik hati menawarkan mencoba cek poin telkomselnya dia yang ternyata bisa dipakai. I'm very thankful to him and said that this book will be very useful for me.
Bukannya berlebihan, tapi saya sangat respect pada setiap orang yang suka menulis jurnal dan menghasilkan quotes atas pemikirannya, hasil problem solvingnya. Saya suka mempelajari hal semacam itu. Maka buku ini paling tidak nantinya akan sangat bermanfaat karena bisa saya lihat berulang-ulang ketika saya butuh perspektif lain dalam melihat suatu hal. Juga untuk reminder bahwa apapun yang terjadi I deserve to be happy. Sama sekali nggak rugi beli buku ini meski akan selesai dibaca dalam waktu singkat jika sedang haus tentang positivity seperti saya. Oiya bukunya harcover lho.
In my opinion, how old an every woman is, there will be still a girl deep inside herself. Every girl must have fun! Every girl must be happy. And every girl always needs another girl support. Thx for Sharing Kak Diana, semoga semakin sukses dan happy :D
Bagi kamu yang belum baca buku ini, monggo diintip di toko buku terdekat. Saya merekomendasikan buku ini untuk jadi teman baik kita yang akan ada setiap saat untuk dibaca-baca dan membuat kita tersenyum ketika membacanya.
![]() |
| my favorite page |
Seorang dosen pernah berpesan kepada kami bahwa masa ketika menjadi mahasiswa ini sangat baik dimanfaatkan untuk membaca. Karena waktu lebih luang dan dapat lebih fokus. Setelah saya pikir-pikir memang benar adanya bahwa ketika masih bekerja rutin di kantor membaca tidak semenarik saat ini.
Kali ini saya tidak akan membuat sinopsis atau komentar tentang sebuah buku. Namun saya akan menuliskan beberapa kalimat yang membuat saya terkagum pada pengarangnya. Tentu banyak kalimat inspiratif lain yang terlewatkan karena saya lupa menandai. Judulnya The Alchemist atau Sang Alkemis dalam Bahasa Indonesia. Pengarangnya adalah Paulo Coelho yang sudah sangat terkenal. Lucunya saya pertama kali tau Paulo Coelho dari tweet Nickhun 2PM (hahaha silly ya, dari idola KPOP!). Dia meng-RT salah satu quotes Paulo Coelho dalam novel Adultery. Lalu saya sempat memfollow sang penulis, namun kini tidak lagi karena saya lebih menyukai karyanya dalam novel. Ini karya Paulo Coelho yang pertama saya baca. Semoga saya berkesempatan membaca karya yang lainnya.
![]() |
| sumber |
Saya bahkan terinspirasi tentang betapa pentingnya menyapu, mencuci piring dan aktifitas membersihkan lainnya bagi pikiran kita. Selain membersihkan lantai, piring dan gelas, ternyata aktifitas repetisi ketika "membersihkan" tadi juga membantu kita untuk membersihkan pikiran dari hal-hal yang negatif. :)
Saya mulai dari sini ya kutipan kalimatnya.
"Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati... bukan cinta yang berbicara Bahasa Dunia."
"Aku akan pergi jauh," katanya. "Dan aku ingin kau tahu, aku akan kembali. Aku mencintaimu, sebab..."
"Jangan katakan apapun," sela Fatima. "Orang dicintai karena dia memang dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai."
"Jangan pikirkan yang tertinggal di belakang," kata sang alkemis pada anak itu, sementara mereka berkuda melintasi pasir gurun. "Segalanya telah tertulis di dalam Jiwa Dunia, dan akan tetap di sana selamanya."
"Manusia lebih banyak memimpikan pulang ke rumah daripada meninggalkan rumah," kata anak itu. Dia sudah terbiasa kini dengan keheningan padang pasir.
"Hanya ada satu cara untuk belajar," sahut sang alkemis. "Melalui tindakan. Segala yang perlu kau ketahui telah kau pelajari melalui perjalananmu. Tinggal satu hal yang perlu kau pelajari."
"Orang-orang bijak memahami bahwa alam semesta ini hanyalah citra dan tiruan akan surga. Dunia ini ada sekadar untuk menunjukkan bahwa ada dunia yang lebih sempurna. Allah menciptakan dunia ini agar kamu melalui objek-objeknya yang terlihat, manusia bisa memahami ajaran-ajaran spiritualnya serta kebijaksanaannya yang amat sangat mengagumkan. Itulah yang kumaksud dengan tindakan."
"Pengkhianatan adalah pukulan tak terduga-duga. Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia tak akan pernah mengkhianatimu. Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginan-keinginannya, dan kau akan tahu juga cara menyikapinya.
"Kau takkan pernah bisa lari dari hatimu. Jadi, sebaiknya dengarkanlah suaranya. Dengan begitu, kau tidak perlu takut mendapatkan pukulan yang tak disangka-sangka."
Dan siapa pun yang campur tangan dalam takdir orang lain tidak akan pernah menemukan takdirnya sendiri.
"Kalau begitu, mengapa kau bilang aku tidak tahu tentang cinta?" tanya matahari pada si anak.
"Sebab bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri saja seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan pula cinta namanya kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan, seperti yang kau lakukan. Cinta adalah daya yang mengubah dan memperbaiki Jiwa Dunia. Saat pertama kali aku menjangkaunya, kupikir Jiwa Dunia itu sudah sempurna. Tapi kemudian kusadari dia sama saja seperti aspek-aspek penciptaan lainnya, memiliki hasrat-hasrat dan pergulatan-pergulatannya sendiri. Kitalah yang merawat Jiwa Dunia itu, dan kita pula yang menentukan apakah dunia tempat tinggal kita menjadi lebih baik atau lebih buruk. Di situlah kekuatan cinta memainkan perannya. Sebab saat kita mencintai, kita selalu berusaha menjadi lebih baik lagi."
---
Selama membacanya rasanya saya seperti sedang bermeditasi, mengalami perjalanan luar biasa melalu penginderaan mata pada kata-kata yang tercerna oleh otak dan menyentuh hati serta jiwa. Memahami banyak hal lain yang pernah saya baca sebelumnya dengan lebih tercerahkan :)
Ada yang tahu kepanjangan dari LEKRA? Lembaga Kebudayaan Rakyat, merupakan sebuah organisasi yang mewadahi seniman yang peduli akan revolusi dan rakyat kala itu. Menjadi tabu dibicarakan ketika masa orde baru karena sebagian besar seniman yang tergabung dalam LEKRA diburu dan dipenjarakan.
Saya sendiri pernah dengar LEKRA ketika pelajaran SD atau SMP atau SMA pada mata pelajaran IPS yang membahas mengenai pemberantasan G30S PKI. Sejak dulu memang saya selalu mempertanyakan apakah pelajaran sejarah benar adanya? Bukan digubah sesuai keinginan penguasa?
Membaca buku LEKRA terbitan Tempo ini membuka mata saya (iya yang sipit), bahwasannya kontribusi saya kepada negara sangatlah minim. Meskipun sebagai salah satu abdi negara saya berani bersumpah bahwa saya telah menjaga satu kursi yang saya tempati dengan tidak pernah menggadaikan integritas saya untuk kepentingan pribadi selama saya menjabat kemarin. Tolong doakan saya untuk terus istiqomah. Ceileh menjabat, iya apalah namanya, sekarang saya mahasiswa, mulai menjiwai ruh peduli rakyat lagi, sesuatu yang saya rasa akan menjadi paradigma baru dalam benak saya apabila saya lancar sampai lulus dan kembali mengabdi lagi nanti.
Bahwasannya para seniman yang bergabung di LEKRA kala itu sebagian besar adalah generasi muda usia dua puluhan, ada yang mahasiswa, pengajar maupun dokter. Mereka turut serta memikirkan nasib revolusi dan rakyat Indonesia sembari menjalankan perannya masing-masing sebagai individu, terus berkarya dengan tema revolusi sebagai seniman, bahkan dengan turba atau turun ke bawah, tinggal bersama para petani untuk beberapa waktu, makan dan tidur di tempat yang sama. Sejatinya memang negara kita harus kuat dari sisi swasembada pangan, namun petani sejak dahulu belum diutamakan. Saya merasa perih sekali, saya rasa saya belum pernah memberikan kontribusi apapun kepada rakyat Indonesia selain menghimpun dan mengawasi setoran wajib pajak yang di bawah pengawasan saya ke rekening negara, itupun tak seberapa, memang untuk APBN, untuk rakyat, subsidi dan segala macam (walaupun free rider lebih banyak dari pembayar pajak, walaupun katanya yang bayar pajak ngasih makan gayus. Fyi, uang potongan pajak penghasilan atau pajak pusat lainnya yang dipotong bendaharawan masuk langsung ke rekening negara, makanya pengusaha juga jangan nego dan berusaha menyuap pegawai pajak, bayarlah pajak sesuai porsi masing-masing, insyaallah berkah usahanya. Fiskus juga sedang direstorasi kok, yang nakal lihat aja pasti diciduk KPK dan nongol di TV. Merasa dirugikan fiskus? Laporkan fiskus yang bersangkutan ke pihak yang berwajib). Tapi saya sebagai individu rasanya belum memberikan apa-apa. Bahkan saya semakin jarang berbaur dengan masyarakat luas karena terkungkung dalam dunia saya sendiri, atau mungkin terlalu asik dan menikmati semseta saya sendiri.
LEKRA menyadarkan saya untuk sedikit memberikan kontribusi nyata untuk Indonesia. Itu pemuda jaman dulu lho sudah sebesar itu geloranya untuk peduli, semoga generasi kini peduli bukan karena terbuai janji namun panggilan hati nurani. Yuk kita mulai misalnya dengan menjadi kakak asuh atau menjadi relawan mengajar untuk adik-adik yang kurang mampu. Mulai dari hal yang kecil yang bisa kita lakukan di sekitar.
Memang LEKRA seringkali dikaitkan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia), namun dari buku ini saya tahu bahwa LEKRA independen dari PKI meskipun beberapa orang besar di LEKRA merupakan motor penggerak PKI.
Saya bukan penganut maupun pengagum komunis, tapi melalui post ini saya ingin sedikit mencurahkan isi hati bahwa saya tertohok oleh pemuda zaman revolusi, Sepertinya saya memang masih sangat perlu belajar lebih jauh dan lebih mendalam lagi, juga belajar untuk bergerak dan berkontribusi, sedih rasanya menyadari diri ini masih bodoh dan minim kontribusi untuk negara.
Jika kalian adalah mahasiswa, coba baca buku ini untuk mendapatkan sudut pandang lain tentang perjuangan. Bahwa bangsa ini sejatinya berdiri dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Juga jangan benar-benar percaya pada satu sumber. Buka mata hati telinga selalu, jangan galau melulu :)
Hmm... Partikel yang saya maksud di sini bukan satuan dasar dari suatu benda atau energi loh yah. Ini Partikel judul buku yang belakangan ini sangat fenomenal, hohoho, yuup bukunya Dewi Lestari.
Delapan tahun setelah terbitnya seri ke-tiga dari yang semula direncanakan "trilogi supernova" kemudian rencana berubah menjadi 6 seri, terbitlah buku ke-empat, PARTIKEL. Dilaunching serentak di Jawa Bali pada hari Jumat 13 April 2012 pukul 4.44PM di Gramedia dengan disertai munculnya alien-alien berwarna hijau. Untungnya saya follow twitternya @bentangpustaka dan @deelestari jadi tahu kalau di luar jawa ikutan launching juga, alhamdulillah Padang termasuk di dalamnya, hihiihiii..
Jam 13.00 saya ke Gramedia Padang dengan berjalan kaki dari kantor, hohoho, panas menyengat nggak dirasain deh. Mbak2 Customer Service yang biasanya langsung meng-OK kan pembookingan kala itu ragu, kebetulan si Mbak mau pulang kampuang.. Tapi dengan baik hati dia menelfon divisi lain yang sedang menyiapkan launching Partikel, akhirnya dia bersedia nyisihin 1 Partikel buat saya, uhhuy makasih Mbaaa, peluuk :p
Jam 15.15 saya dapat sms dari Mbak tadi, langsunglah saya diam-diam melipir dari kantor ke gramedia, hihihi. Lagi-lagi jalan kaki biar gak ketahuan kalau keluar di jam kerja. :p
Panasnya kota Padang gak saya hiraukan (ini lebai emang, tapi beneran lho :p), sesampainya di Gramedia langsung ke kasir dan bilang ttg sms Mbak Cs yang baik itu.. Daan 1 Partikel pun berpindah ke tangan saya. Langsung deh saya balik kantor, meski masih ngos2an langsung minta dipotoin rekan sebelah :D
Isinya???
WORTHED BANGET
Jenis novel yang saya sukaaaaa. Dalam seri Supernova, saya jatuh cinta pertama kali sama "Akar", buku ke-2. Nama karakter utamanya adalah Bodhi. bagian yang bikin saya paling excited ketika Bodhi berkeliling Asia Tenggara untuk mencari jati dirinya. Karena saya bacanya baru bulan Maret kemarin, setelah pernah backpaking ke Singapore, Thailand n Malaysia, jadinya ya ngebet pengen ke Kamboja dan Vietnam. :)
Jujur, kemarin saya mencari Akar karena mau menyambut terbitnya Partikel, buat pemanasan dan penasaran banget juga pengen baca, dulu tau Supernova pas kelas 1 SMA dan saat itu ga tertarik. Orang-orang di twitter heboh amat yak smpe segitunya menyambut PARTIKEL, jadi saya baca kembali e-book Akar yang udah saya punya dari beberapa bulan yang lalu :p
Partikel lebih komplit dari karakter tokoh-tokohnya, sudut pandangnya, pengetahuannya dan bahkan negara-negara yang ada di jalan cerita.
Tokohnya di sini aneka agama, dari Kakek Nenek dan Ibunya Zarah yang merupakan pemeluk Islam yang taat, temannya yang beraneka ragam suku bangsa dan juga agama, Zarah sendiri yang tak dideskripsikan sebenarnya menganut apa, sungguh seorang Dee yang bukan seorang muslim bisa membuat cerita seperti ini membuat saya ingin mempelajari dan mengamalkan agama saya dengan lebih kaffah. Tokoh yang karakternya paling menghantui sepanjang cerita dan sekaligus paling kuat menurut saya adalah Firas, ayahnya Zarah yang super cerdas dan misterius, mungkin beliau punya banyak kenalan alien...
Paling sering terngiang di benak saya saat membaca adalah tentang si"adeknya" Zarah yang mengalami kelainan genetis dan dianggap kena kutukan jin, saya langsung mencaritahu tentang itu dan MasyaAlloh saya kaget sekali ternyata ada kelainan genetik seperti itu, pengetahuan yang luar biasa dan perlu bagi saya. Belum lagi tentang fungi yang memang banyak diceritakan di sana, jadi mabok fungi deh.
Cropcircle, alien dan hal-hal magis tapi kaya spiritualitas dan ada relasinya dengan ilmu pengetahuan lainnya juga membuat saya semakin melihat ke dalam diri dan menjaga spiritualitas dalam diri saya.
Gak cuma fisika quantum yang memang sudah disentuh Dee dari buku pertamanya "Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh", dalam Partikel Biologi juga ikut mendominasi.
Penjelajahan Zarah dari Bogor, ke Tempat Orang Utan di Kalimantan lalu pindah ke London dan mendapat tugas ke negara-negara lain termasuk Afrika, membuat saya mupeng! huhh. Kemampuan fotografi Zarah dan gaya bercerita Dee saya yakin akan mengguhgah para pembacanya yang hobi fotografi lebih tergila-gila.
Mungkin inilah yang namanya "buku yang membangun", membangun energi positif dan spiritualitas Ketuhanan sekaligus menyadarkan kita untuk jauh lebih mencintai bumi dan sesama makhluk :')
Saya gak akan bikin resensi lengkapnya di sini kok, cuma mau menceritakan kehebohan dan kerempongan menyambut lahirnya Partikel, walaupun mungkin ga seheboh penggemar karya Dee lain :p
Di endingnya Partikel ada lanjutan dari buku kedua dan ketiga, Bodhi ketemu Elektra!! Jadi penasaran seri selanjutanya yang Gelombang, huhuhuuu....
Saya bacanya mulai jam 2 siang hari Sabtu, selesainya magrib, dengan diselingi nonton tv dulu beberapa jam cz kebetulan ada acara favorit ;p
Itulah efek PARTIKEL ke saya, bloggers udah baca juga kah? Gimana efeknya? :D







