Tunik merupakan fashion item andalan para wanita. Tak hanya lekat dengan kalangan ibu-ibu paruh baya, kaum muda pun kini menggemari tunik dan menjadikannya fashion item favoritnya. Bentuk tubuh apapun, baik berisi maupun kurus, warna kulit terang ataupun gelap, semua cocok mengenakan tunik. Bosan dengan model tunik yang itu-itu saja? Kalau teman-teman punya tunik asimetris yang memanjang di bagian ujung kiri dan kanan, kalian bisa dicoba mengenakannya dengan gaya lain supaya tak membosankan. Satu tunik bisa dipakai dengan dua cara, stylish tapi tetap hemat.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang bagaimana mengenakan tunik asimetris dengan gaya lain, kita cari tau lebih banyak dulu yuk tentang tunik. Seperti yang kita tau, tunik merupakan pakaian longgar yang menutupi dada, bahu dan punggung. Biasanya berlengan panjang. Tapi bisa juga tak berlengan. Panjangnya hingga pinggul atau sampai atas lutut. Bahkan sekarang banyak tunik yang super panjang hingga sampai atas mata kaki, menyerupai baju kurung.
Berdasarkan beberapa referensi yang saya baca, tunik sudah ada sejak zaman prasejarah Mesir, kemudian ada juga pada kebudayaan berpakaian Yunani Kuno, Romawi Kuno, dan Kekaisaran Romawi Timur. Dulunya disebut dengan tunika. Sedangkan dalam Bahasa Inggris saat ini tunik disebut tunic.
Di era prasejarah Mesir, tunik merupakan busana wanita sejenis baju dalam yang dipakai di bawah dada dan bertali di belakang bahu. Kemudian seiring dengan perkembangan zaman dibuatlah menjadi baju longgar yeng berlengan dan panjang hingga lutut dan disebut tunik talaris, hanya dipakai oleh orang-orang istana Mesir.
Diduga ketika Islam masuk ke Aceh busana tunik dibawa oleh pedagang Pakistan dengan setelan tunik sebagai atasan dan celana sebagai bawahan. Selanjutnya tunik dimodifikasi menjadi pakaian wanita muslim yang disebut baju kurung. Budaya berpakaian ini sangat melekat di Malaysia dan Brunei Darussalam, di mana baju kurung dijadikan pakaian nasional. Baju kurung berwarna kuning hanya boleh dikenakan oleh kalangan kerajaan.
Sedangkan berdasarkan sejarah Romawi kuno, tunik merupakan pakaian pria. Tunik yang dikenakan untuk pria muda dan berumur pada zaman itu dibedakan. Untuk pria muda dan prajurit tuniknya panjang hingga lutut dan berwarna putih. Sedangkan untuk laki-laki yang berumur, bangsawan, dan hakim tuniknya panjang hingga pergelangan kaki. Tunik biasa dijadikan dalaman, luaran yang dikenakan adalah toga. Tunik ungu hanya boleh dikenakan kaisar.
Pada awalnya orang Romawi hanya mengenakan tunik tak berlengan yang disebut colobium. Pria dianggap feminim jika mengenakan tunik lengan panjang atau tunik yang panjangnya sampai mata kaki. Namun sejak Julius Caesar biasa mengenakan tunik berlengan panjang, kemudian tunik berlengan panjang dan yang panjangnya sampai mata kaki menjadi lazim dikenakan. Saya jadi ingat gamis pria muslim nih sewaktu membaca kisah ini. Selain itu, ada kebiasaan mengenakan tunik dengan belt di sekitar pinggang di kesempatan resmi. Kalau di Indonesia biasanya para wanita ya yang mengenakan belt pada tunik.
Saat ini tunik bisa kita temui dengan beragam model dan bahan. Saya suka tunik yang flowy/ jatuh dan berbahan cerutti atau katun. Setelah bosan karena beberapa tunik yang saya punya cutting bagian bawahnya normal-normal saja, saya mencoba menambah satu koleksi tunik asimetris yang flowy.
Saat memakainya saya jadi punya ide untuk menyatukan ujung asimetris dari sisi kiri dan kanan dengan menalikannya. Selain jadi lebih chic, bentuk tali ini menyerupai pita sehingga seperti tunik-tunik kekinian yang dilengkapi dengan belt dari kain yang menyatu pada tuniknya.
Apakah teman-teman suka dengan tunik juga? Yuk coba pakai tunik asimetris yang dipunya dengan gaya lain supaya lebih fresh dan nampak beda. Jadi seperti tunik baru deh. Tapi kalau teman-teman ingin belanja, bisa cari-cari di Harbolnas Zalora yang bakal hadir 15 hari lagi supaya tetap hemat. :D
Referensi artikel:
https://id.wikipedia.org/wiki/Tunik
Lokasi: Hotel Sheraton Bandung
Photo by Pejalan Senja dan Adelina Tampubolon
Lokasi: Hotel Sheraton Bandung
Photo by Pejalan Senja dan Adelina Tampubolon



