Jalan-Jalan di Singapura #1

14:18

Setelah menghabiskan waktu sehari sebelumnya di Universal Studios Singapore, keesokan harinya kami berencana keliling Kota Singapura . Diawali dengan breakfast di hostel, kemudian kami berjalan kaki dari Fernloft Hostel Little India menuju Masjid Sultan sebagai destinasi pertama kami. Masjid Sultan merupakan Masjid Agungnya Singapura. Sebagai seorang muslim, tentu saja saya penasaran dan ingin berkunjung melihat rumah Alloh terbesar di Singapur ini :)
Saat itu banyak sekali orang Jepang yang sedang berkunjung ke Masjid ini. Turis dari Jepang tadi ramai-ramai antri untuk mendapat giliran pembagian hijab dari penjaga masjid. Memang ketentuannya bagi yang tidak menutup aurat akan diberikan hijab oleh penjaga masjid supaya memasuki masjid dalam keadaan menutup aurat. Karena saya sudah berjilbab maka diperbolehkan masuk begitu saja tanpa harus memakai hijab yang disediakan masjid.  Abang-abang penjaga masjidnya mengira saya orang Malaysia. Hehe.

Masuk Masjid Sultan ini tidak dipungut biaya apa pun, gratis. Pintu masuk untuk wisatawan disediakan khusus, jadi kita sebagai pengunjung harus masuk melalui pintu khusus tersebut. Di sekitar masjid banyak kios cinderamata. Kios-kios yang ada di sana berjajar rapi di depan masjid. Di sekitar masjid merupakan tempat bermukimnya umat muslim Singapura.

Pertokoan di area belakang masjid yang menghadap ke jalan besar kebanyakan berjualan segala perlengkapan yang dibutuhkan umat muslim, mulai dari kitab-kitab tajwid, tauhid dll hingga minyak wangi. Di dekat masjid juga terdapat rumah makan khas minang. Saya yang tinggal di Padang sangat notice dengan rumah makan ini, bahkan sampai ketawa kegirangan ketika menemukan rumah makan tersebut. Ada dua rumah makan Padang di dekat masjid. Yang satu tulisannya Rumah Makan Padang, pas di seberang tempat saya foto di atas. Lalu satu lagi lokasinya dari Rumah Makan Padang belok kiri, namanya Rumah Makan Khas Pariaman. Jadi ikut bangga sama budaya Minang, bangga jadi orang Indonesia.

Di samping masjid ada destinasi wisata muslim yang terkenal, yakni kampung Glam. Sayang sekali saat kami ke sana kampung khas islam tersebut sedang direnovasi total, sehingga tidak bisa kami kunjungi. 

Puas berkeliling masjid, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga Rafles City, sebuah mall yang sangat besar. Saya mampir sebentar untuk melihat-lihat seperti apa dalamnya, sekalian ngadhem. Kaget juga ternyata Singapora jauh lebih panas dari Padang ataupun Jakarta, panasnya sangat menyengat.

Bagi saya Singapura bukanlah surga belanja (maklum lagi ngirir jadi ya backpakeran, nggak belanja), sehingga fokus utama saya ke sini untuk mengunjungi "must visit places" aja. Belanjaan saya vuma oleh-oleh berupa kaos dan gantungan kunci :p

Di seberang Rafless City ada Capitol Building, saya foto-foto sebentar di sana. Lingkungan di Singapura benar2 bersih, saya kagum sekali. Tetapi ada yang membuat hati saya miris, kebanyakan petugas kebersihannya adalah bapak-bapak tua entah kebetulan saya ketemunya begitu atau emang kebanyakan pegawainya memang yang sudah tua. Mungkin penduduk Singapora usia produktif tidak tertarik dengan pekerjaan ini, dan kemungkinan lain pekerjaan bersih-bersih tadi sudah menjadi semacam kegiatan sosial gitu kali ya jd yang minat yang udah sepuh-sepuh. Belakangan saya tahu bahwa hal tersebut terjadi karena memang ada pemberdayaan penduduk usia lanjut untuk dapat terus produktif. Diantaranya menjadi tugas kebersihan dan menjadi Uncle Ice Cream, itu lho penjual eskrim khas Singapura yang harganya 1 SGD.

Meski miris dengan pemberdayaan tadi, yang penting Singapura ini bersih banget. Saya berharap kota-kota di Indonesia bisa sebersih ini suatu saat nanti.
Nantikan perjalanan saya berikutnya ya.. Atau silakan langsung klik Jalan-Jalan di Singapura #2.

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)