Kawah Putih Memang Mempesona

22:33

Masih dalam rangka libur sebulan pada September yang lalu. Bandung saya selingi dengan mengunjungi tempat wisata yang sudah tak asing lagi bagi banyak orang, Kawah Putih Ciwidey. Keinginan saya untuk pergi berkunjung ke sana sebenarnya sejak kisaran tahun 2007-2009 lalu ketika saya tinggal di Bintaro. Kala itu memang banyak keinginan yang tidak bisa dilaksanakan karena berbagai alasan. Namun satu per satu sudah mulai dikunjungi. Alhamdulillah.
Pagi itu Bandung yang saya kira sejuk ternyata cukup terik. Sekitar pukul 10 pagi matahari sudah naik tinggi. Berbekal google maps dari iphone yang sudah dipersiapkan dengan di-cas full juga powerbank, kami berkendara dengan Vario sewaan, membulatkan tekad untuk ke kawah putih meski tahu jalanan akan panas dan mungkin macet. Jarak yang akan kami tempuh adalah 42 kilometer untuk sekali jalan. Makasih banyak kepada yang telah menemani saya dan bersedia mengendarai motor sejauh itu padahal sudah pernah ke kawah putih sebelumnya.

Rupanya google maps memberikan petunjuk arah dengan melewati lingkar luar Kota Bandung yang sepertinya lebih jauh dari jalan yang semestinya. Namun karena kami tidak hafal jalanan Bandung maka dengan pasrah mengikuti arahan google maps. Memasuki Soreang jalanan benar-benar padat saat matahari samgat terik, banyak angkot dan truk. Saya kira kemacetan ini karena adanya pertigaan arah masuk keluar tol, pergantian kendaraan yang keluar masuk dan antrian masuk ke jalan utama membuat lalu lintas sedikit tersendat. Setelah memasuki daerah Ciwidey udara mulai sejuk. Mulai ada kebun strawberry yang waktu itu memang saya cari. Namun kebun-kebun awal yang dilewati dari arah Bandung agak gersang, mungkin karena kemarau. Makin naik udara makin sejuk. kebun strawberry makin banyak di kanan kiri jalan. Saya jealous memandangi orang-orang yang sedang asik memilah strawberry untuk dipetik. Saya juga mau petik strawberry! 

Sedang senang-senangnya menikmati hawa nan sejuk ternyata di jalanan yang cukup menanjak banyak bus yang berjajar dengan mobil-mobil lainnya padat merayap menunggu giliran untuk terus naik ke lokasi wisata Kawah Putih Ciwidey. Tentu saja udara sejuk segera terganti asap knalpot bus. Euww...

Apabila hendak ke kawah putih dengan kendaraan umum saya rasa sangat memungkinkan dengan menggunakan angkot. Nyambung dua kali. Lalu bisa lanjut ojek sesampai di Terminal Ciwidey untuk menuju kawah. Apabila memang mencari informasi mengenai ini, googling akan banyak informasi yang tersedia lebih detail tentang transportasi umum ke Ciwidey dari Bandung.

Akhirnya kami tiba di lokasi wisata. Tersedia parkir motor di luar. Kita bisa beli tiket di tempat parkir motor ini ataupun di loket yang lokasinya agak ke dalam. Jika tidak salah ingat harga tiketnya Rp 21.000 sudah termasuk biaya angkutan dari loket masuk ke lokasi kawah pp Rp 6.000. Murah untuk sesuatu yang sangat indah. Kami pengendara motor merasa sangat terbantu dengan angkutan tersebut. Rupanya alternatif ini belum ada pada tahun 2009.

Ada line antrian yang baik dan tidak memungkinkan penyerobot untuk menunggu angkutan. Jangan khawatir menunggu lama, angkutan yang tersedia sepertinya ada ratusan. Mobil akan berangkat ketika penumpangnya sudah 12. Lalu akan ada mobil lain yang langsung datang siap mengantarkan rombongan berikutnya. Jarak dari turun mobil sampai lokasi kawah tidak terlalu jauh. Saya pikir saya harus mendaki tangga-tangga tinggi dulu baru sampai, ternyata enggak. Hihihi.

Memasuki area kawah saya merasakan aura mistis bukan horor, lebih ke terkesima dengan keindahan warna kawahnya, air hijau toska pada dataran putih yang menyilaukan mata. Luar biasa indahnya. Namun ketika kita ingat untuk menghembuskan nafas dan menghirup oksigen lagi barulah kita tersadar kita tidak sedang berada di pantai namun di kawah belerang yang menyengat. Keindahan kawah semakin bertambah dengan perbukitan hijau dan pepohonan hitam dengan ranting rantingnya yang mati karena terkena belerang. Seperti halnya hutan mati di Papandayan, saya juga bertanya-tanya mungkin pepohonan di kawah putih juga sudah tua usianya. 

Ada peringatan disarankan paling lama di kawah 10 menit saja. Namun sepertinya banyak yang mengabaikan peringatan ini. Saya juga, karena saya di sana sekitar 30 menit.  Sebaiknya membawa masker dari rumah atau bisa juga beli di loket, banyak yang jual. 


Meski bau belerangnya benar-benar kuat, keindahan Kawah Putih membuat kami mampu bertahan lebih dari waktu yang semestinya. Pantas saja banyak sekali yang menjadikan Kawah Putih sebagai lokasi foto. Beberapa kali diumumkan dari pengeras suara agar para pengunjung yang sudah tidak kuat atau merasa sesak untuk meninggalkan kawah.

Seperti halnya di puncak gunung lainnya, cuaca di kawah cukup labil. Saat kami datang ada kabut menyelimuti, lalu menjadi cerah dan dalam hitungan menit mendung mulai datang. Belakangan kami tahu ternyata di bawah, dia area parkir motor rupanya hujan. Saya membatalkan acara petik strawberry dan membeli strawberry yang ada di resort. Jangan lupa dicicipi dulu, nanti bisa dapat yang asam lho. Strawberry dari sinilah yang saya jadikan saus pancake pada beberapa post sebelum ini.

Kami menggunakan jasa foto langsung jadi, baru sekali ini kami menggunakan jasa tukang foto keliling. Entah kenapa kemarin pingin banget punya foto cetakan di sana. Soalnya nggak bawa tongsis, hahaha. Mungkin lain kali ketika berkunjung ke daerah wisata lainnya akan dicoba menggunakan jasa tukang foto keliling. Sekalian sedikit berbagi rezeki. Ya tho?

Ternyata perjalanan yang begitu panjang hanya memakan waktu 30 menit di lokasi yang dituju, Demikianlah pengorbanan untuk sampai ke Kawah Putih. Pengorbanan itu tentu tak sia-sia, saya puas dan senang sekali sudah pernah ke Kawah Putih, sebuah tempat wisata ajaib, danau di puncak Gunung Patuha, gunung yang dulunya memuntahkan laharnya sehingga terciptalah Kawah Putih ini. Tuhan Maha Asik, kata Sujiwo Tedjo, memang demikian adanya. Subhanallah indahnya :)

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)