Menikmati Kuliner dan Suasana Bandung

10:27

DAN BANDUNG
Dan Bandung, bagiku, bukan cuma masalah wilayah belaka. Lebih jauh dari itu, melibatkan Perasaan, yang bersamaku ketika itu.
Mungkin saja ada tempat yang lainnya, ketika kuberada di sana, akan tetapi Perasaanku sepenuhnya ada di Bandung, yang bersamaku ketika rindu, yang bersamaku ketika sunyi, yang bersamaku ketika itu
Tulisan dari Pidi Baiq tersebut sepertinya sangat akurat menggambarkan bagaimana Bandung melekat di hati setiap orang yang pernah tinggal di sana atau bahkan yang hanya pernah berkunjung ke sana. Bagaimana denganmu, setuju atau tidak? :D

Bandung begitu istimewa di hati saya meski belum pernah tinggal di sana, melekat di sudut hati saya sejak kecil karena tetangga saya, teman sepermainan saya sejak masih bayi dititipkan oleh orang tuanya yang tinggal di Bandung untuk diasuh neneknya yang rumahnya hanya berjarak dua meter dari rumah saya. Entah karena ia yang selalu merindukan Bandung saat itu atau karena anak-anak dari nenek tersebut hampir semuanya tinggal di Bandung sehingga paradigma bahwa Bandung begitu  istimewa bagi mereka, dan saya ingin juga merasakannya sudah ada di benak saya sebelum Jogja yang lebih dekat dengan tempat saya tumbuh itu menjadi sangat istimewa, dan saya lupa akan Bandung. Namun belakangan karena saya tinggal di Bintaro pada 2006-2009 dan sekarang kembali lagi, saya jadi ingat Bandung lagi. Ingin jalan-jalan ke sana. Kesampaian pada 2007 saat Penilai 17 Studi Lapangan di Kebun Teh Ciater. Saya sebagai satu-satunya junior ikut aja apapun acara mereka, jalan kemana aja. Salah satunya Cihampelas Walk. Namun rupanya memori saya tentang Ciwalk kurang tepat, soalnya kemarin ketika saya ke Ciwalk lagi beda banget dengan Ciwalk dalam ingatan. Jadi kepikiran sebenarnya memori di mana sih yang merusak memori Ciwalk...

Bulan September benar-benar ceria, saya libur sebulan lebih beberapa hari. Penutup perjalanan saya nikmati dengan mengenal kembali Bandung yang sudah sangat ramai dan macet katanya. Saya naik kereta Eksekutif Argo Parahyangan, ini kali pertama saya naik kereta eksekutif. Bukannya pelit tapi mungkin iya sih, saya malas naik kereta eksekutif untuk pulang ke Kutoarjo karena harganya mendekati tiket pesawat, dari pada naik kereta eksekutif biasanya saya memilih pesawat aja sekalian, biar nggak capek duduk terus. Namun ke Bandung jaraknya hanya 3 jam dari Gambir, maka kami memilih kereta karena katanya pemandangannya luar biasa. Lagipula tak ada pesawat Jakarta-Bandung kan? Haha. Sebenarnya lebih mudah bagi kami untuk naik travel karena banyak sekali travel Bintaro-Bandung di sekitar tempat tinggal saya sekarang.

Pilihan naik kereta memang tak ada salahnya, pemandangan perbukitan menghiasi jendela kami setelah Cikampek terlewati. Dari Gambir ke Cikampek tentu pemandangan khas lingkungan rel kereta di Ibukota. Namun kini memang lebih bersih dibanding tahun-tahun sebelumnya. Perbukitan di area Jawa Barat yang kami nikmat di kereta mengingatkan saya pemandangan Padang-Solok, banyak bukit dan ada yang dikeruk juga. Bedanya di Sumbar bukit menjadi gundul karena diambil sebagai bahan baku Semen Padang, sedangkan di Jabar mungkin untuk semen padalarang.

Paling istimewa dari perjalanan kereta adalah ketika kita melewati rel di atas jembatan yang kabarnya tertinggi se-Indonesia. Tak perlu khawatir terlewat, layaknya naik pesawat, maka masinis akan mengumumkan spot-spot penting yang wajib kita lihat karena keistimewaan dan keindahannya.

Meski sering naik kereta ekonomi, saya belum pernah mengalami dilempari batu di atas kereta, baru ketika perjalanan kemarinlah saya melihat sendiri bahkan batunya mengenai jendela di sebelah saya tepat ketika saya sedang bersandar, rasa kagetnya luar biasa mengusir kantuk. Pelaku pelemparan adalah anak-anak kecil yang sepertinya masih SD. Saya melihat sendiri dua kali insiden pelemparan di dua lokasi yang berbeda, Apa maksudnya pelemparan itu? Ada yang tahu? Apakah ada kaitannya dengan Viking dan The Jack? -__-

Tiba di Bandung saya senang sekali, namun motor sewaan kami telat dan saya agak cemberut, gamau menyapa abang yang nyewain motor. Mangkel karena telatnya dua jam, menyita waktu kami, mengurangi spot yang bisa kami kunjungi. Meski begitu saya tak mau mood rusak gara2 itu maka segeralah saya tersenyum dan membonceng motor untuk segera berkeliling Bandung, tentu saja dengan google maps karena nggak tau jalan. Haha. 

Nah demikian cerita pengantar perjalanan saya ke Bandung. Selanjutnya saya aka sedikit membagi pengalaman kemarin ketika jalan-jalan dan terutama makan di sana. Banyak tempat menarik ya, hingga saya bingung dan akhirnya nyerah menyesuaikan rute saja. Hahaha.

1. KARNIVOR
Dari hasil googling, karnivor menjadi rekomendasi orang-orang yang menulis tentang kuliner di Bandung dengan harga miring. Benar saja steaknya murah namun nggak murahan. Mana ada steak seenak ini dengan harga segitu di Jakarta. Huhuhu

Suasana di sana seperti sedang berada di tengah hutan dengan meja kursi kayu, akar dihiasi lampu kerlap kerlip pada desain interiorya mengingatkan kita pada kunang-kunang di hutan. Selain itu ada pohon mangga besar di dalam resto dan gambar-gambar dinosaurus sehingga rasanya benar-benar sedang di alam liar, rawwr

2. Lawangwangi
Berlokasi di atas lahan perbukitan membuat Lawangwangi sangat strategis untuk melihat pemandangan perbukitan Bandung. Sepertinya tempat ini sedang populer sejak beberapa waktu lalu di kalangan anak muda yang asli Bandung maupun yang sedang berkunjung ke sana. Tempat ini merupakan rekomendasi dari beberapa teman. Pemandangannya sangat indah, tempatnya romantis, bisa menikmati waktu sambil duduk-duduk bersama orang yang kita sayang maupun teman-teman sembari makan dan minum lalu melihat aneka karya seni bersama terdengar sangat sempurna untuk mengisi akhir pekan bukan? Itulah hal-hal yang bisa kita dapatkan di sana.
Harga makanan dan minuman di sini agak mahal bagi saya mahasiswa, haha. Namun demikian karena lapar kemarin kami memesan makanan. Saya pesan mie goreng yang ternyata sangat berlebihan tingkat kemanisannya. Tak sebanding dengan harganya, apa boleh buat, lapar dan hujan. Di luar itu saya betah berlama-lama di sini. Untuk minuman saran saya jangan pesan yang neko-neko, hihihi, cukup pesan yang biasa saja tanpa di-mix, yang segar sekalian atau yang manis saja. :p
Ketika hujan mulai reda, muda mudi sibuk hilir mudik berfoto dengan kamera DSLR mereka. Memang hampir sebagian besar area di Lawangwangi sangat fotogenic.
Tema karya seni yang dipajang waktu itu saya lupa tepatnya, namun intinya dalam memandang seorang pemimpin hendaknya kita jangan salah kaprah, tempatkan pada posisi yang tepat agar tidak otoriter atau memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Kitalah yang memilih mereka jadi kita juga punya kuasa atas mereka dalam mengawasi bagaimana pemimpin menjalankan hak dan kewajibannya.
Selain menikmati karya seni, kita juga bisa belanja, saya nggak belanja apa-apa soalnya nggak dianggarkan, haha. Namun barang yang dijual di sini bagus-bagus dengan harga affordable.
Menikmati sore sambil membaca di taman ini sepertinya sangat menyenangkan, sayangnya bangku-bangku basah terkena hujan jadi enggan untuk duduk di sana.saat itu.
Tema dari karya seni ini adalah "Ada Dalam Ketiadaan", sebuah ekspresi seni tentang Ketuhanan. 

I'll walk beside you :p
3. Tokyo Express
Lagi-lagi sepertinya saya salah pilih menu. Hahaha. Saya pesan mie vegetarian saat berkunjung ke Tokyo Express yang ada di Ciwalk ini. Rasanya agak hambar kebanyakan sayur mienya sedikit dan biasa aja. Sushinya lumayan namun daging tuna-nya tidak sesegar yang saya bayangkan. Haha. menu yang lain sepertinya enak-enak aja. Di sini jadi satu dengan tempat makan pizza namun saya lupa namanya. Mungkin pesan pizza aja lebih enak kali ya. Dasar laper mata :p

4.Roti Bakar Madtari
Waktu itu di Bandung sering hujan saat sore. Maka malam setelah turun dari Lawangwangi kami hendak menikmati roti bakar. Karena saya dengernya matahari saya googling dan nemu alamatnya, namun ketika lewat kok nggak ada. Setelah muter 3x baru sadar ternyata yang dicari Madtari dan dari tadi kami udah ngelewatin beberapa kali. Huahaha. Susu jahe panasnya enak, maniss. Rotinya juga, jadi kalau nggak suka manis mungkin jangan pesan banyak-banyak. Kejunya melimpah ruah dalam penyajian tiap makanannya. 
Dari hasil googling jika ingin menikmati roti bakar yang enak ada di Jalan Gempol. Kami tak punya banyak waktu lagi untuk mencari keesokan harinya jadi memutuskan tidak ke sana.

Nah demikian sedikit cerita saya ketika jalan-jalan di Bandung beberapa waktu yang lalu. Duh jadi ingin kuliah di Bandung. Gimana ya bisa nggak nih beasiswa S2 di sana.. Hihi. Atau S3 kali ya soalnya S2 pingin nyoba di Lee Kuan Yeuw.. Lah yang sekarang aja terseok-seok nih padahal hahaha. Nggakpapa bermimpi, nikmat dan gratis ini kan :D

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)