New Adventure: Kisah Pendakian Gunung Papandayan

00:47

Mendaki Gunung Papandayan bukan merupakan kali pertama bagi saya dalam hal naik gunung. Namun gunung ini merupakan gunung pertama yang saya daki di Wilayah Jawa Barat. Lokasinya ada di Kabupaten Garut dengan ketinggian 2665 mdpl. Saya mendaki Papandayan karena mengikuti Pendakian Umum yang diadakan oleh Stapala, mapalanya STAN. Sebelum pendakian, kami dibagi dalam beberapa kelompok. Saya dan teman saya masuk ke Kelompok 4, anggotanya 10 orang termasuk dua guide. Grup kami istimewa karena ada dua orang WNA dari Perancis. 

Malam itu saya dengan dua orang rekan kelompok 4 berangkat dari rumah dengan membawa carrier dan daypack masing-masing. Kami berjalan kaki ke kampus. Menapaki gang-gang sempit Kalimongso. Pukul 19:00 kami memasuki area kampus, tiba-tiba ada yang memanggil kami, ternyata salah satu guide kelompok yang sedang asik duduk-duduk di kantin kampus. Ia mengajak kami duduk-duduk dulu di sana karena posko masih terlalu ramai dan berantakan oleh para peserta yang membagi barang bawaan dan logistik. Keberangkatan akan dimundurkan dari jadwal agar sampai Cisurupan pas pagi hari dan bisa langsung naik. Sekitar pukul 19:45 kami segera ke posko, ternyata memang masih banyak yang belum selesai packing dan pergi makan malam. Jadwal keberangkatan yang semula pukul 21:00 pun mundur. Kelompok kami memanfaatkan kelonggaran waktu dengan mengecek barang bawaan dan berbagi membawa logistik kelompok. Saya sempat pulang lagi ke rumah mengambilkan carrier teman saya yang akan dipinjamkan pada teman yang daypacknya sudah sangat menggelembung tak proporsional seperti akan menarik pemakainya untuk jatuh ke belakang. Jadi ingat paman dalam karakter anime ninja rantaro yang kepalanya besar dan kalau ketawa bakal bikin dia terjungkal ke belakang itu... Sudah lama rasanya tidak merasakan keriweuhan semacam ini.

Pukul 21:30 kami briefing kemudian masuk truk TNI untuk menuju Garut pada pukul 22:00. Suasana di truk sangat panas. IYA NAIK TRUK. Untunglah dipisah antara peserta cowok dan cewek karena emang bakal desek-desekan banget. Saya cuma bisa simpati kepada Elisabeth, rekan kami yang orang Perancis. Dia sangat tidak nyaman dengan truk dan nggak tidur sama sekali selama perjalanan. Saya mah merem-merem aja, meski nggak nyangka truk yang untuk cewek agak kecil. Apa boleh buat, biaya trip ini memang sangat murah, cuma Rp 250rb. Di dalam perjalanan saya berusaha tidur namun sesekali terbangun, kaki pegal luar biasa karena dijadikan sandaran teman yang duduk di lantai truk, juga karena dijadikan sandaran beruntun dua orang yang tidur miring ke punggung. Seni nge-truck barangkali memang seperti ini. Pukul 03:00 kami diberi waktu istirahat 30 menit di rest area tol. Ketika berkaca di toilet ternyata saya sangat berantakan, rambut keluar kemana-mana, jilbab udah ga rapih. Tiga puluh menit di rest area sangat berarti untuk meluruskan kaki yang tertekuk selama 4 jam. Toiletnya bersih.

Jarak tempuh dari lokasi saya tinggal saat ini yakni di Bintaro ke Garut sekitar 6-7 jam. Pukul 05:00 kami sampai di Cisurupan, area transit pendaki. Untuk menandainya bisa kita lihat adanya banyak pick up di lahan kosong yang diapit masjid dan lapangan. Karena bangun tidur, tentu saja rasanya ingin sikat gigi kan ya. Namun air di masjid habis. Itu artinya sampai hari minggu nanti saya tidak akan sikat gigi. Listerine cukup membantu untuk kondisi seperti ini. Pukul 06:00 kami menaiki pick up menuju Camp David, semacam basecamp Gunung Papandayan. Berdasarkan informasi dari Bapak Sopir pickup, jalanan dari Cisurupan ke Camp David baru dibenahi bulan lalu, dulunya sangat buruk dan banyak lubang. Kemarin jalannya sudah diaspal tipis rata dan bagian yang dekat Camp david bahkan dibeton. Akhirnya bisa ke toilet lagi nih di camp David, namun waktu itu carrier saya belum sampai lokasi karena diangkut dengan pickup yang berbeda, jadi tetep nggak bisa sikat gigi. Mana antrian toiletnya panjang banget kayak antri langka BBM, bener-bener bye bye gosok gigi. Lepas dari segala keluhan yang panjang lebar ini, pemandangan di Camp David sangat indah. Khas gunung dengan hijaunya pepohonan dan tebing-tebing terjal. Hawa dingin mulai menyerang di sini, kabut pagi yang putih menggelayut. Minum teh hangat sembari makan roti sebagai sarapan dan bercengkrama dengan rekan sekelompok cukup menggembirakan dan menghangatkan suasana. Di sini banyak kios jualan makanan, jangan khawatir kelaperan dan tidak perlu repot memasak. Diirit dulu gasnya.

Sekitar pukul 08:00 kami mulai mendaki Gunung Papandayan. Trek pertama adalah jalan berbatu selebar jalan aspal kelas III. Pepohonan awalnya banyak lalu sangat jarang. Mulai naik mulai sedikit menanjak dengan batu cadas dan kerikil serta sedikit tanah. Saya mulai menata nafas. Bau belerang sudah menyeruak dari awal pendakian. Untunglah slogan Pendakian Umum ini adalah "Have Fun" jadi sering berhenti untuk istirahat sehingga saya tidak keteteran.

Kawah Papandayan yang indah dan tersohor itu ternyata dapat ditempuh tak sampai satu jam dari Camp David. Pantas saja bau belerangnya sedemikian kuat. Asap belerang yang bau bak telur busuk ini ternyata sangat elok jika dijadikan obyek foto. Pantas saja banyak pendaki modis dengan coat yang kurang cocok untuk dikenakan di gunung, dan bahkan ada yang menggunakan sandal atau sepatu yang ada heelsnya. Awalnya saya heran kenapa banyak yang modis banget padahal mau naik gunung. Nah, mungkin mereka hanya hendak ke kawah ini atau emang mau mendaki cantik, istilah dari rekan kelompok saya ke cewek-cewek yang mendaki dengan pakaian modis layaknya hendak ke mall. Ternyata mereka hendak berfoto-foto di gunung jadi harus modis. Bagi saya kenyamanan tetep nomer 1.
di kawah Papandayan
Kami melanjutkan perjalanan lagi, masih di dekat kawah namun yang ke arah atas, pemandangannya lebih dramatis dengan asap-asap belerang yang menyembul dari berbagai sisi, saling sambar dan mewarnai pekat putih ke udara gunung yang semula sejuk dan segar menjadi bau belerang yang demikian kuat. Dari sini kami melihat area lapang yang agak luas, kami pikir tempat itu adalah Pondok Saladah yang akan dijadikan tempat camping kami. Maka tanjakan terjal pertama sejak berangkat tadi kami arungi dengan penuh semangat dalam waktu cepat. Namun ternyata area datar ini bukan Pondok Saladah Saudara-Saudara!! Bukan hanya itu, kami juga dikejutkan atas keberadaan warung dan penjual cilok di sana. Tentu saja cilok si mamang laris manis tanjung kimpul. Udara dingin dan waktu yang semakin siang membuat cilok demikian menarik untuk dimakan karena orang-orang mulai merasa lapar. Berdasarkan  nanya ke mamang cilok, ternyata di Puncak Papandayan bahkan ada yang jualan baso dan cilok juga lho. Wah sepertinya pendaki Papandayan tak perlu bawa banyak logistik. Baru sekali ini saya lihat sendiri ada warung di atas gunung gini. Beberapa waktu lalu saya juga pernah melihat post instagram teman saya yang menampilkan warung di Ranu Kumbolo, Mahameru. Rupanya naik gunung sudah menjadi lifestyle yang menjamur di mana-mana di kalangan pecinta travelling sehingga gunung sekarang ini selalu ramai dan mendatangkan para pencari nafkah untuk berjualan di sana. Mamang cilok yang ini baik, sampah plastik bekas cilok berikan saja ke si mamang nanti dia yang buangin. Namun sayangnya masih ada saja yang membuang plastik sembarangan.

Harapan kami selanjutnya adalah segera mencapai hutan mati. Sebenarnya kami juga tak tahu apakah benar kami akan melewatinya sebelum Pondok Saladah. Belakangan kami tahu jika Hutan Mati justru berlokasi di atas Pondok Saladah. Jalanan yang semula datar dan sesekali menanjak berubah menjadi jalur menurun dengan sungai kecil yang membelah, lengkap dengan khas batuan sungai yang besar-besar di pinggir-pinggirnya. Gemericik air menjadi penghiburan tersendiri, sedikit  meluruhkan rasa lelah yang mulai muncul dan bertambah berat. Dari sungai kecil tadi jalanan mulai menanjak lagi, terus menanjak, kemudian makin curam dan menjadi sangat curam. Hingga harus berpegangan pada akar atau tanaman jika tidak yakin dengan langkah kita untuk terus naik ke atas. Saya jadi ingat betapa traumatisnya Singgalang dengan kecuramannya yang seolah tiada jeda. Padahal sebelumnya Papandayan baru saja saya puji dalam hati tentang treknya yang enak dan minim tanjakan curam, ternyata diam-diam ia juga menyimpan kecuraman yang membuat saya cukup terengah-engah dan harus beristirahat sejenak. Melalui tanjakan terterjal itu rasanya lega sekali. Kami disambut kembali oleh jalan lebar dengan batu dan tanah. Di sana kelompok kami beristirahat, teman saya menjuluki lokasi ini mirip dengan tebing keraton, karena pemandangannya maupun lokasi jurangnya yang mirip dengan Tebing Keraton yang sedang terkenal di Bandung itu. Belakangan saya tahu bahwa tanjakan tadi adalah tanjakan terberat untuk menuju Pondok Saladah.
Setelah tenaga pulih kami melanjutkan perjalanan di track jalan lebar tadi. Ternyata banyak motorcross yang lalu lalang di Papandayan. Keheranan saya semakin menjadi-jadi. Selain banyak orang jualan sampai atas, ternyata banyak motor juga menjelang puncak. Mungkin saya sudah terlalu lama nggak naik gunung hingga baru tau jika gunung sudah seterjamah ini. Barangkali lama-lama akan ada ojek ke Puncak Papandayan. Kami menipu diri dari rasa lelah dengan bercanda tawa hingga tak terasa kami sampai di suatu padang luas lagi dengan rumput jepang yang rapih dan tentu saja ada warung dan mamang-mamang cilok lagi. Di sanalah lokasi pos polisi dan penjaga untuk perizinan pendaki yang hendak camping dan juga lokasi di mana terdapat tulisan PONDOK SALADAH! Sambil menunggu anggota kelompok yang tertinggal di belakang, kami beristirahat sejenak.Tidur-tiduran sekenanya. Katanya sih dari lokasi kami ke Pondok Saladah tinggal lima menit saja. Namun dalam hati saya yakin yang baca tulisan ini dan pernah naik gunung tak akan percaya dengan "lima menit".

Rombongan pun lengkap, kami mulai memasuki area menuju Pondok Saladah yang sebaiknya dilalui satu-satu untuk memberi space bagi pendaki yang turun. Layaknya gang sempit, jalanan menuju Pondok Saladah memang hanya cukup dilalui dua orang saja. Gunung ini cukup ramai jadi kita akan berpapasan dengan banyak pendaki lain, terutama pada akhir pekan. Jika vegetasi tanaman hijau di kanan kiri jalan sudah mulai habis dan muncul pohon dengan ranting-ranting yang yang seperti bekas terbakar, maka artinya kita sudah sampai di pondok saladah. Saya sangat gembira ketika memsuki Pondok Saladah, merasa disambut oleh kemegahan padang  luas dengan eidelwis yang indah serta tebing hijau disekelilingnya. Lalu excitement saya turun menjadi hanya sekitar 70% saja karena terlalu banyaknya tenda dan keramaian di sana. Rasanya semua orang camping di sini. Tendanya banyak bener. Bukankah kita mendaki gunung untuk menepi dari keramaian? Tapi yasudahlah yang penting kami akan segera camping juga! Yeay.
Keheranan ketiga saya pun muncul, di pondok saladah ada toiletnya dengan WC yang bersih dan air yang melimpah ruah. Ada mata air yang dialirkan dalam pancuran bambu dan mushola juga. Betapa gunung sekarang sudah dilengkapi infrastruktur pendukung yang apik, tak perlu lagi kita buang air di semak atau menggali! Mwahahaa... Di sisi lain saya sedih karena para pengunjung rajin mandi yang tentu saja menghasilkan deterjen yang terpaksa akan diserap oleh tanah gunung yang menghasilkan mata air ini. Belum lagi pihak-pihak yang mencuci perlatan masak dan makannya dengan sabun/cairan pencuci piring berbusa-busa. Nggak nyuci baju sekalian tuh? Tolong ditahan bentar untuk tidak cuci muka, sikat gigi dan mandi serta cuci piring dan alat masak dengan deterjen di gunung please, hanya kurang dari dua hari saja kok. Kasian dampak deterjen kalian akan mencemari sumber mata air di tahun-tahun mendatang. Jangan-jangan anak cucu kita sudah tak tahu lagi bagaimana wujud mata air dan bagaimana lezatnya air langsung minum dari mata air yang tak perlu dimasak.

Pukul 12:00 kami mendirikan tenda dan memasak pertama kalinya dengan anggota kelompok, rempong riweuh seru. Aktivitas memasak selalu berlangsung seperti itu hingga kami akan turun gunung keesokan harinya. Ada saja yang kurang, apalagi ada dua bule yang porsi makannya tentu lebih dari kita karena badannya juga lebih gede. Hihihi.

Pukul 14:00 sebagian teman-teman ada yang mencari rute ke puncak. Kabarnya sudah beberapa tahun tak ada satupun pendaki yang menjamah Puncak Papandayan yang sesungguhnya, maka teman kami hanya mencoba membuka jalur namun tak sampai puncak. Sebagian yang lain hendak ke Tegal Panjang, puncak bayangan Papandayan. Namun untuk mencapai area ini diperlukan izin yang berbeda dengan izin naik Gunung Papandayan sehingga mereka tidak jadi ke sana dan menggantinya dengan mengunjungi Hutan Mati yang terkenal itu. Saya sendiri tinggal di tenda karena menyadari kapasitas diri bahwa saya sedang lemah karena sedang menstruasi hari ketiga. Tentu cewek-cewek tau bagaimana beratnya hari ketiga, hehehe. Saya tinggal di tenda setelah mengkonfirmasi bahwa keesokan paginya kami akan ke Tegal Alun, di sana ada padang eidelwis dan akan melewati Hutan Mati lagi, jadi saya nggak rugi tinggal di tenda untuk istirahat siang.

Seperti acara gunung yang lain, malam itu ada acara api unggun. Awalnya panitia tidak akan menyelenggarakan  acara seperti ini karena ada larangan membuat perapian di gunung. Namun karena semua pendaki lain saat itu membuat api unggun maka akhirnya dibuatlah acara ini, sekalian untuk mengakrabkan para peserta untuk lebih saling mengenal dan berbagi pengalaman. Saat di keramaian api unggun saya sadar bahwa saya akan lebih menikmati pendakian dengan orang-orang terdekat. Lain waktu jika naik gunung lagi mungkin hanya dengan teman-teman dan sahabat dekat saja. Ditutup dengan lagu kebangsaan, acara ini usai dan para peserta kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat. Saya tidur nyenyak malam itu hingga dini hari ketika sleeping bag saya rasakan menjadi dingin yang ternyata basah karena hujan. Kemudian satu tenda saya bangun terlalu pagi karena saya heboh kebasahan.
Kabut pagi itu demikian tebalnya hingga membuat panitia memundurkan jadwal ke Tegal Alun yang semula direncanakan pukul 6 berubah menjadi pukul 7 lalu berubah lagi menjadi pukul 9. Pendakian dari Pondok Saladah ke Tegal Alun memakan waktu dua jam. Ada yang jual gorengan di tengah jalan, rasanya pun nikmat bukan tipu-tipu. Kadang kita mikirnya karena jauh dari pemukiman maka si penjual barang jualannya asal-asalan. Ternyata tidak demikian. Semuanya benar-benar enak. Luar biasa sekali perjuangan penduduk sekitar dalam mencari nafkah ya, para pendaki pun merasa sangat terbantu dengan jualan mereka. Di sisi lain hal tesebut semoga diimbangi kesadaran membuang sampah pada tempatnya oleh semua pihak.

Jalur menuju Tegal Alun yang kami pilih memang yang memakan waktu tersingkat dibanding jalur lainnya. Namun kabarnya akan merupakan jalur yang cukup terjal. Awalnya masih cukup landai hingga hutan mati. Lalu menanjak cukup wajar. Lama-lama makin terjal dan curam. Layaknya perjuangan lainya, bagian tersult adalah ketika mendekati akhir. Area paling terjal menjadi penutup sebelum jalan datar yang berujung di padang eidelwis nan indah, Tegal Alun. Saat itu Eidelwis belum mekar, namun rimbun semaknya bertebaran memenuhi padang ini. Rerumputan yang kering masih memperindah pemandangan. Kontras dengan rimbun eidelwis yang hijau, ia berwarna coklat keemasan. Di sini pada hari sebelumnya ada kubangan air yang indah bagaikan danau, Namun hari itu airnya hilang tak bersisa, Belum puas menikmati indahnya Tegal Alun, gerimis bersusulan dengan hujan deras yang datang dengan cepat. Semua segera memakai jas hujan dan ponco lalu berduyun-duyun menuruni tebing dengan tangan kebas yang dingin serta kaki berat karena sepatu dilengketi lumpur, kami kembali ke Pondok Saladah dengan terseok-seok karena jalan yang kami lewati berubah menjadi sangat licin.
Hutan Mati
Kami memasak lagi setelah selesai bersih-bersih, lalu packing dan segera turun dari Papandayan, pendakian ini begitu singkat rasanya jika dibandingkan perjalan kembali ke Bintaro dari Cisurupan yang masih akan memakan waktu lebih dari 5 jam karena pasti macet.
Di tengah perjalanan ketika turun gunung, saya mengcapture pemandangan indah keluarga kecil yang membawa anaknya yang baru 4,5 tahun untuk belajar mendaki gunung. Selain itu ada juga beberapa anak sekolah yang sepertinya sedang ada acara di sini. Mengenal keindahan alam negeri sendiri sedari dini semoga membuat mereka menjadi generasi penerus yang tangguh dan bangga akan tanah airnya.
Pada akhirnya saya simpulkan Gunung Papandayan sangat cocok untuk para pendaki perdana. Medannya tak terlalu berat dan infrastrukturnya cukup lengkap. Datang ke sana saat musim eidelwis mekar sepertinya akan sangat menyenangkan. Terima kasih Papandayan, telah mengijinkan kami turut menilik keindahanmu. Alhamdulillah.
Tegal Alun
Pada 

You Might Also Like

3 comments

  1. Wah cerita pendakian gunung papandayannya seru banget. kapan mau kesana lagi?

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)