Ketika liburan akhir semester tiba, beberapa teman di kelas saya mengajak susur goa di Sukabumi. Sudah lama sekali rasanya tidak menyusuri goa beneran. Di Sumbar memang saya sering ke Goa Jepang di Ngarai Sianok, Bukittinggi. Saya juga pernah ke Lobang Mbah Suro di Sawahlunto. Rasa was-was akan hal-hal horor karena tersugesti cerita tragis pembangunannya menghinggapi ketika di dalam goa. Keduanya memang bukan goa alami. Lain halnya dengan susur Goa Seplawan yang pernah saya ikuti dengan teman-teman pecinta alam SMA dulu di Purworejo, goanya alami bentukan alam. Digenangi air dan kita harus merambat menyusurinya. Di beberapa bagian dindingnya yang tinggi terdapat huruf Pallawa. Nuansa magis dan sensasi petualangan itulah yang mengundang kerinduan saya untuk menjajalnya lagi.
Kawasan goa yang ditawarkan teman saya ada di Buniayu. Istimewanya di sana memiliki dua goa untuk disusuri. Jadi sekali dayung dapat dua goa. Goanya ada yang horizontal sebagaimana goa lainnya, dan juga goa vertikal. Kebayang nggak gimana cara menyusuri goa vertikal? Khusus mengenai petualangan di goa vertikal akan saya post tersendiri setelah ini.
Akomodasi ke Sukabumi bisa dibilang cukup mudah. Kami naik Commuter Line dari Stasiun Pondok Ranji hingga Stasiun Bogor. Lalu menyeberang menuju Stasiun Bogor Paledang, tempat pemberangkatan Kereta Api Pangrango jurusan Bogor-Sukabumi yang akan kami tumpangi. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam. Kami tidur untuk menyimpan tenaga karena di hari pertama ini kami sudah akan menyusuri goa horizontal. Dari Stasiun Sukabumi naik angkot ke Termial Jubleg. Angkotnya berwarna hitam dan kata Pak Supirnya dinamakan angkot nehi (negara hitam). Dari Jubleg kami naik angkot lagi yang berwarna silver untuk menuju Buniayu.