Keliling Pulau di Belitung dan Snorkling di Pulau Lengkuas

10:37

Setelah 5 jam perjalanan dengan Jetfoil dari Pangkal Balam Bangka, tibalah kami di Pelabuhan Laskar Pelangi, Belitung. Meski hanya di dalam jetfoil, perjuangan kami luar biasa. Dinginnya AC jetfoil sudah tidak bisa ditoleransi lagi jika kita hanya memakai jaket biasa. Jadi bagi yang hendak menggunakan moda transportasi ini ke Belitung, ada baiknya membawa pakaian hangat yang cukup. 
Pelabuhan Laskar Pelangi sangat bagus, kontras bila dibandingkan Pangkal Balam yang sederhana. Saya yakin penyebabnya karena larisnya buku Tetralogi Laskar Pelangi dan kesuksesan film Laskar Pelangi. Keduanya pasti mendatangkan banyak wisatawan domestik dalam jumlah yang signifikan. Peningkatan pendapatan daerah dari bidang pariwisata pun pasti ikut meningkat. "Bumi Laskar Pelangi" dijadikan tagline Pulau Belitung. Wisatawan akan disambut tulisan "Selamat Datang di Bumi Laskar Pelangi" tepat ketika jetfoil dan kapalnya sandar di Pelabuhan Belitung. 

Saya yang memang fans Andrea Hirata merasa senang sekali dan bersyukur bisa menjejakkan kaki di Belitung, latar kisah-kisah yang ditulis Andrea. Rasanya seperti sedang bermimpi, tak nyata bisa sampai sana. Meski begitu, tak ada agenda ke Gantong dan area yang menjadi latar asli kisah-kisah Laskar Pelangi dalam agenda saya. Alasannya murni karena keterbatasan waktu. 

Keluar dari pelabuhan kami sudah disambut hangat oleh teman-teman yang sudah sampai di Belitung sehari sebelumnya. Lalu kami disambut dengan langsung dibawa ke tempat makan seafood yang sangat memuaskan dari segi rasa maupun porsi. Beberapa masakan seafoodnya sangat asing bagi kami. Ada seafood yang dimasak seperti bubur, abaikan penampilannya, rasanya sangat lezat! Sepertinya itu sop kepiting. Lidah kami benar-benar dimanjakan. Meski di Padang saya juga sering makan seafood, kali ini sensasinya beda. Tak lain karena perbedaan bumbu dan cita rasa di setiap daerah di nusantara.
Setelah makan kami keliling2 kota Belitung yang tidak terlalu luas, belanja logistik untuk keperluan kami snorkling ke Pulau Lengkuas esok hari. Saya membeli celana untuk snorkling karena hanya membawa celana jeans.

Hari yang ditunggu pun tiba. Walaupun pagi itu mendung, sebagian langit masih biru, kami tetap yakin akan melanjutkan rencana untuk snorkling. Lokasi snorkling favorit para wisatawan adalah di sekitar pulau-pulau yang dapat diakses dari Pantai Tanjung Kelayang. Sedangkan pantai yang menjadi latar film Laskar Pelangi dengan batu-batu karang yang besar adalah Pantai Tanjung Tinggi.

Pantai Tanjung Kelayang cantik sekali, pasirnya sangat putih. Menyilaukan mata. Kami langsung diajak menaiki perahu yang sudah dipesankan oleh rekan kami. Perjalanan menuju Pulau Lengkuas melewati banyak pulau kecil yang beragam bentuk dan luasannya. Semuanya punya keunikan masing-masing. Namanya juga sangat unik. Bahkan ada pulau yang dinamakan Pulau Babi. Sebagian besar pulau-pulau tersebut juga memiliki batu-batu karang yang tinggi dan sangat besar seperti yang ada di Film Laskar Pelangi.
Setelah sekitar setengah jam maka kami sudah bisa melihat pulau yang kami tuju, yakni Pulau Lengkuas. Ia mempunyai ciri khusus yakni mercusuar yang legendaris, peninggalan masa penjajahan Belanda. Bangunannya tinggi menjulang, mencolok dari kejauhan.
Semakin mendekati Pulau Lengkuas kami semakin menyadari kecantikannya. Meski langit sedikit mendung, pantainya masih sangat indah untuk dinikmati. Pasirnya yang putih dan lembut. Bersih bebas dari sampah. Saya turut bangga melihat bebrapa tempat sampah di sekeliling pulau adalah sumbangan dari KPP Pratama Tanjung Pandan. Bersantai di pantai tak pernah membosankan bukan?

Kami pun melakukannya sembari sesekali mengambil foto. Makan siang kali itu sangat mewah karena lokasi kami sangat istimewa. Meski hanya nasi bungkus, terasa luar biasa karena disantap dalam tawa kebersamaan di pulau cantik ini. Hari itu tak banyak wisatawan yang berkunjung ke Pulau Lengkuas. Mungkin karena cuaca yang sedikit mendung. Hal ini membuat kami serasa menguasai pulau. Aih nikmatnya bisa bersantai di pulau hanya milik kami saja :)
Tak lupa dengan agenda utama, kami kembali ke perahu dan snorkling di dekat pulau. Banyak sekali anak-anak usia sekolah dan rombongan tour yang tiba-tiba datang. Sehingga kami harus pindah ke gugusan pulau lain mencari spot yang terumbu karangnya lebih cantik dan ikannya lebih beragam.
Saya memang sudah sering snorkling di pulau-pulau yang ada di sekitar Kota Padang. Namun semua spot snorklingnya ada di tepian pantai. Sedangkan spot snorkling di Belitung ini adalah di tengah laut diantara dua pulau. Takut sekali rasanya ketika mengetahui spotnya di tengah laut begitu. Tak hanya saya, rekan lain dalam rombongan kami pun ada yang takut. 

Namun karena kami paling junior kala itu, rekan kami yang takut tersebut malah didorong dan diceburkan begitu saja ke laut oleh para senior. Tentu saja setelah si korban mengenakan pelampung dan sepatu katak, serta sudah memakai kacamata renang yang hanya dijadikan hiasan di kepala. 

Setelah bisa muncul ke permukaan lagi berkat dorongan pelampung, ia pun segera mengenakan alat snorkling sebagaimana mestinya. Melihat pemandangan itu, saya segera memberanikan diri untuk menyebur. Mengerikan sekali jika diceburkan orang lain seperti tadi. Kecemasan saya jauh berkurang karena nahkoda perahu kami dan asistennya ternyata sangat ahli menyelam tanpa alat. Sepertinya nelayan di sana banyak yang bisa melakukan hal tersebut untuk mencari udang. Saya pun jadi tenang, mencoba snorkling ke sana kemari dengan harapan akan ada yang menolong jika terjadi apa-apa. 

Terumbu karang di Belitung sangat terawat sekali. Bahkan ada program donasi perawatan terumbu karang, Pada area terumbu karang yang sedang dibiakkan terdapat nama donaturnya. Sedangkan area yang sudah tumbuh dengan baik dipadati ikan berwarna warni. Nggak ada ruginya saya memberanikan diri mencebur ke laut. Ini pengalaman yang sangat menyenangkan.



Puas snorkling kami pindah di dekat pulau babi, spot ini bukan tempat snorkling tapi pinggiran pulaunya banyak bintang laut, warna warni ada pink, hijau, biru, abu2, Hello Patrick Star, we were coming for you! Dapat banyak banget bintang lautnya. Lalu kami lepaskan kembali.
Menjelang sore cuaca semakin mendung. Bahkan hujan mulai turun dan terus mengikuti kami. Karena niat baik kami yang sudah datang jauh jauh ini, maka kami mendapatkan keberuntungan. Ada satu pulau yang saya lupa namanya yang tidak terkena hujan. Bahkan di sana cenderung cerah. Kami main-main lagi di pantainya, sambil sesekali berenang menggunakan pelampung.
Senja yang indah mengiringi kepulangan kami dari Tanjung Kelayang...
Tadi pagi kami tiba di Tanjung Kelayang pukul 08:00, saat itu pantai ini sepi saja. Saat kembali ke Pantai Tanjung Kelayang di sore hari, suasana berubah ramai sekali. Bahkan kamar mandi dan tempat gantinya antri panjang. Kebetulan saat antri saya ngobrol dengan rombongan ibu-ibu depan saya, ternyata Ibu itu aslinya Purworejo, sekampung sama saya. Jauh-jauh ke Belitung ketemunya orang Purworejo juga :p
Dari hasil saya keliling sebagian Pulau Belitung, tanah di pulau ini berwarna kemerahan seperti tanah liat, banyak pohon-pohon pendek sejenis semak dan kebun sawit di lahan-lahan kosong. Infrastruktur di sana belum terlalu bagus. Di sekitar daerah pantai banyak cafe-cafe dan hotel. Penerangan di malam hari juga agak kurang. Tapi semua kekurangan itu tak akan terasa ketika kita menikmati indahnya Bumi Laskar Pelangi ini.

Besok saya lanjutkan apa yang saya alami dalam perjalanan saya menuju Palembang, Bangka, Belitung dan bagaimana saya terlantar semalaman di Bandara Soekarno Hatta, hahahhaaa. See ya ;)

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)