Dari Buku The Alchemist (Sang Alkemis) Oleh Paulo Coelho

00:48

Seorang dosen pernah berpesan kepada kami bahwa masa ketika menjadi mahasiswa ini sangat baik dimanfaatkan untuk membaca. Karena waktu lebih luang dan dapat lebih fokus. Setelah saya pikir-pikir memang benar adanya bahwa ketika masih bekerja rutin di kantor membaca tidak semenarik saat ini. 

Kali ini saya tidak akan membuat sinopsis atau komentar tentang sebuah buku. Namun saya akan menuliskan beberapa kalimat yang membuat saya terkagum pada pengarangnya. Tentu banyak kalimat inspiratif lain yang terlewatkan karena saya lupa menandai. Judulnya The Alchemist atau Sang Alkemis dalam Bahasa Indonesia. Pengarangnya adalah Paulo Coelho yang sudah sangat terkenal. Lucunya saya pertama kali tau Paulo Coelho dari tweet Nickhun 2PM (hahaha silly ya, dari idola KPOP!). Dia meng-RT salah satu quotes Paulo Coelho dalam novel Adultery. Lalu saya sempat memfollow sang penulis, namun kini tidak lagi karena saya lebih menyukai karyanya dalam novel. Ini karya Paulo Coelho yang pertama saya baca. Semoga saya berkesempatan membaca karya yang lainnya.  
sumber
Saya bahkan terinspirasi tentang betapa pentingnya menyapu, mencuci piring dan aktifitas membersihkan lainnya bagi pikiran kita. Selain membersihkan lantai, piring dan gelas, ternyata aktifitas repetisi ketika "membersihkan" tadi juga membantu kita untuk membersihkan pikiran dari hal-hal yang negatif. :)

Saya mulai dari sini ya kutipan kalimatnya. 

"Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati... bukan cinta yang berbicara Bahasa Dunia."

"Aku akan pergi jauh," katanya. "Dan aku ingin kau tahu, aku akan kembali. Aku mencintaimu, sebab..."
"Jangan katakan apapun," sela Fatima. "Orang dicintai karena dia memang dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai."

"Jangan pikirkan yang tertinggal di belakang," kata sang alkemis pada anak itu, sementara mereka berkuda melintasi pasir gurun. "Segalanya telah tertulis di dalam Jiwa Dunia, dan akan tetap di sana selamanya."
"Manusia lebih banyak memimpikan pulang ke rumah daripada meninggalkan rumah," kata anak itu. Dia sudah terbiasa kini dengan keheningan padang pasir.

"Hanya ada satu cara untuk belajar," sahut sang alkemis. "Melalui tindakan. Segala yang perlu kau ketahui telah kau pelajari melalui perjalananmu. Tinggal satu hal yang perlu kau pelajari."
"Orang-orang bijak memahami bahwa alam semesta ini hanyalah citra dan tiruan akan surga. Dunia ini ada sekadar untuk menunjukkan bahwa ada dunia yang lebih sempurna. Allah menciptakan dunia ini agar kamu melalui objek-objeknya yang terlihat, manusia bisa memahami ajaran-ajaran spiritualnya serta kebijaksanaannya yang amat sangat mengagumkan. Itulah yang kumaksud dengan tindakan."

"Pengkhianatan adalah pukulan tak terduga-duga. Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia tak akan pernah mengkhianatimu. Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginan-keinginannya, dan kau akan tahu juga cara menyikapinya.
"Kau takkan pernah bisa lari dari hatimu. Jadi, sebaiknya dengarkanlah suaranya. Dengan begitu, kau tidak perlu takut mendapatkan pukulan yang tak disangka-sangka."

Dan siapa pun yang campur tangan dalam takdir orang lain tidak akan pernah menemukan takdirnya sendiri.

"Kalau begitu, mengapa kau bilang aku tidak tahu tentang cinta?" tanya matahari pada si anak.
"Sebab bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri saja seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan pula cinta namanya kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan, seperti yang kau lakukan. Cinta adalah daya yang mengubah dan memperbaiki Jiwa Dunia. Saat pertama kali aku menjangkaunya, kupikir Jiwa Dunia itu sudah sempurna. Tapi kemudian kusadari dia sama saja seperti aspek-aspek penciptaan lainnya, memiliki hasrat-hasrat dan pergulatan-pergulatannya sendiri. Kitalah yang merawat Jiwa Dunia itu, dan kita pula yang menentukan apakah dunia tempat tinggal kita menjadi lebih baik atau lebih buruk. Di situlah kekuatan cinta memainkan perannya. Sebab saat kita mencintai, kita selalu berusaha menjadi lebih baik lagi."

---
Selama membacanya rasanya saya seperti sedang bermeditasi, mengalami perjalanan luar biasa melalu penginderaan mata pada kata-kata yang tercerna oleh otak dan menyentuh hati serta jiwa. Memahami banyak hal lain yang pernah saya baca sebelumnya dengan lebih tercerahkan :)

You Might Also Like

5 comments

  1. Sukaaa ulasaanya. Bbrp thn lalu juga sempet nulis ttg Alchemis di blog ku. Tp ditulisan ini keren.. Betul jd semacam bermeditasi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah makasih bnyk. Iya, kesadaran yg didapat dari baca buku ini bagus ya. Tp sayangnya kadang lupa di keseharian :)

      Delete
  2. hmmm .... cinta sejati datang tanpa alasan .

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)