Keragaman Indonesia

12:26

Setiap kali mendapatkan kesempatan pendidikan entah itu hanya pendidikan singkat maupun dulu ketika mendapat kesempatan kuliah ikatan dinas pada kementerian tempat saya bekerja, saya selalu bertemu dan berinteraksi dengan berbagai karakter orang-orang yang terdiri dari beragam suku dan umur yang masing-masing memiliki kekhasan yang menarik bagi saya.

Tanpa saya sadari ketika kejadian tersebut berlangsung, ternyata saya termasuk orang yang doyan ngomong. Tetapi kadang saya ngomong tanpa dipikir. Sungguh saya akan merasa menyesal setiap kali saya tidak sengaja terpancing pembicaraan yang membahas kekurangan orang lain, hiks memang lidah tak bertulang.

Orang yang berumur di atas 40 tahun biasanya cenderung ramah, ketika mereka sudah ngobrol dengan kita akan memakan waktu berjam-jam. Kita sebagai kaum muda harus mengalah ketika berbicara dengan beliau-beliau ini, sebisa mungkin jangan membantah, atau pembicaraan akan semakin panjang. 

Sedangkan kaum muda sendiri terdiri dari berbagai macam karakter, ada yang pendiam, ada pula yang suka bercanda dan membuat suasana menjadi heboh. Kebanyakan orang dari Sumatera Utara ataupun orang batak lah yang sering menjadi pelopor kehebohan itu. Sedangkan orang jawa biasanya turut serta meramaikan, atau bahkan hanya menjadi penonton, karena memang di jawa terlalu banyak hal-hal yang membentengi seseorang untuk bertindak, banyak pikiran seperti ahh ntar begini, ahh ntar begitu, wah saya orangnya begini kok, nggak bisa ikut bercanda-bercanda begitu. Tapi sudah jarang sih anak muda yang masih seperti itu, kebanyakan mau ikut becanda, ndak jelas sekalipun.

Ketika saya tinggal di Sumatera ini, entah ketika saya berada di Padang ataupun Pekanbaru, saya sering berinteraksi dengan orang minang, melayu, batak, dan suku saya sendiri, Jawa. Senang sekali saya bisa belajar dan mengambil pelajaran dari setiap karakter orang yang saya temui tersebut.

Kesopanan adalah yang paling sering saya pelajari, walaupun saya orang jawa, tapi saya tidak selemah lembut orang jawa kebanyakan. Orang minang pun banyak yang sopan dan lemah lembut saat berbicara, walaupun lebih banyak lagi yang berbicara dengan nada keras. Dari pengamatan saya, sikap dan sopan santun ini memang terpengaruh dari suku mana dia berasal, tapi juga ditentukan oleh bagaimana kebiasaan keluarga masing-masing di mana mereka dibesarkan.

Setiap suku memiliki filosofi yang kadang tidak disadari ataupun kadang stereotype yang dilabelkan tidak sepenuhnya begitu. Misalnya orang jawa yang suka membicarakan suatu hal di belakang, di luar forum yang disediakan. Kalau yang ini kebetulan saya enggak. Hal tersebut adalah salah satu perwujudan dari filosofi blangkon di mana "njendhol" nya blangkon itu ada di bagian belakangnya.

Sedangkan orang minang adalah orang yang pintar, dari beberapa pembicaraan, kebanyakan orang mengambil istilah kalau orang minang itu terkurung tidak akan di dalam, jatuh tidak akan ke bawah. Istilah tersebut melambangkan betapa kreatifnya orang minang.

Orang batak beda lagi, biasanya mereka adalah orang yang keras dan tegas. Selalu tahu pasti apa yang mereka inginkan sehingga selalu keras pada apa yang mereka inginkan, namun di sisi lain apabila sisi emosional mereka sudah tersentuh, mereka bisa jadi yang menangis paling keras.

Sekian dulu pengamatan dari saya, apabila ada yang kurang berkenan, itu tadi cuma pendapat saya pribadi yang saya peroleh dari orang-orang sekitar saya. sorry ^^

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)