Persiapan Perjalanan ke Tanjung Pinang

19:18

Setelah tahu saya mendapatkan panggilan dinas ke Batam, ada dua hal yang saya rencanakan. Pertama, saya senang sekali karena bisa meninggalkan Padang. Kedua, saya bertekad harus bisa jalan-jalan ke sekitar Batam. Maka muncullah ide untuk berwisata ke Pulau Bintan. Saat itu saya nggak ngeh bahwa Tanjung Pinang berlokasi di Pulau Bintan tapi jauh sekali dari area yang bernama Bintan. Pulau Bintan ibarat terbagi dalam dua kutub, bagian selatan merupakan Ibukota Provinsi Kepulauan Riau yakni lokasi di mana Kota Tanjung Pinang berada. Sedangkan area sebelah utara dinamakan daerah Bintan yang terdiri dari area resort wisata Lagoi.

Tanya Teman yang Pernah Travelling ke Tanjung Pinang dan Bintan

Pencarian informasi sebanyak-banyaknya tentang Tanjung Pinang pun dimulai. Saya mendapatkan informasi tentang obyek wisata di Bintan dari dua orang teman yang merupakan traveller handal. Bahkan salah satunya tahun kemarin berhasil mengikuti ACI 2011 dan beliau sudah mahir di dunia penulisan, silakan visit blognya http://efenerr.com/. Kebetulan beliau baru ke Bintan bulan lalu.

Saya mendapatkan referensi must visit place-nya Tanjung Pinang dari salah satu post Mas Farchan. Selain itu saya juga nanya-nanya ke teman saya sejak SMP, SMA sampai kuliah @aufasidix sila follow twitternya kalau kalian suka jalan-jalan, karena Sidiq ini hampir tiap weekend terbang kemana-mana entah ke pulau lain di nusantara ataupun menjelajah negeri seberang. Sidiq memberikan masukan beberapa tempat wisata murah di Tanjung Pinang.

Setelah mendapatkan masukan tentang destinasi di Tanjung Pinang dan Bintan, saya mencari ide gimana caranya supaya ngirit sewa mobil di sana dan bagaimana caranya tahu rute kendaraan umum. Kebanyakan orang yang saya kenal dan dari hasil surfing internet menyatakan di Tanjung Pinang apalagi Bintan nggak ada angkot. Dari Tanjung Pinang ke Bintan juga minim transportasi umum. Dari informasi Bang Reynold (yang juga senior saya) yang lahir dan besar di Pulau Bintan, saya mendapat informasi tentang transportasi di Bintan yang sangat bermanfaat.

Cari Tahu Moda Transportasi yang Tersedia di Tanjung Pinang (Ask Local People)

Katanya dulu ada transportasi Bus Umum dari Tanjung Pinang menuju Bintan setiap jam. Namun karena sepi pengguna, bus itu hanya beroperasi di jam keberangkatan dan pulang kerja orang-orang Tanjung Pinang yang bekerja di Lagoi, Bintan. Dari informasi Bang Reynold lagi nih, wilayah Bintan hampir 60% telah dikelola oleh Singapore. Warga Pulau Bintan sepertinya justru senang dengan ini karena kelestarian alamnya terjaga. Namun miris juga sih karena pantai-pantai mereka pengelolaannya dijual ke pihak asing. Namun resort-resort di Lagoi itulah yang menjadi tulang punggung pendapatan terbesar pajak di Bintan, sumber utama APBD Kepri. Ruwet juga yaa... Yuk ah kembali ke pokok bahasan jalan-jalan ._.

Masih dalam rangka ngirit, saya diingatkan Mas Farchan bahwa ada Mas Dimas, senior saya yang lain lagi. Enak juga ternyata jadi PNS pusat yang unit kerjanya tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Jadi banyak teman untuk ditanyai. Beliau tugas di Tanjung Pinang, jadi barangkali saya bisa mendapatkan pinjaman mobil darinya. Namun ternyata setelah dikontak, beliaunya dinas ke Bandung. Artinya fix saya harus sewa mobil dan saya memutuskan untuk menekan budget penginapan.

Booking Hotel Sebelum Keberangkatan Supaya Hemat

Saya lebih suka booking penginapan sebelum bepergian. Alasannya tentu supaya bisa membandingkan sepuasnya antara beberapa hotel yang emnarik hati. Faktor yang saya perhatikan adalah tarif, review, harga, dan akomodasi. Saya mencari nformasi penginapan di Lagoi dan Tanjung Pinang melalui Tripadvisor.  Saya melihat foto-foto Lagoi di Tripadvisor, ternyata indah sekali!

Tarif resort hotel di Lagoi ternyata sangat mahal. Tapi untungnya masih ada hotel peringkat teratas tripadvisor yang berlokasi di Tanjung Pinang dan sesuai dengan budget saya, namanya Hotel Pelangi. Saya memilih budget hotel supaya dana untuk sewa mobil cukup longgar.

Awalnya saya ragu untuk menetapkan pilihan pada hotel ini, karena ada review negatifnya. Kelihatannya seperti hotel tua. Namun setelah tahu bahwa Hotel Pelangi menyediakan fasilitas antar jemput gratis dengan mobil shuttle mereka, keraguan saya langsung menguap. Shuttle akan menghemat biaya transportasi saya nantinya. Saya telpon hotel itu untuk membandingkan rate di agoda dengan rate pesan langsung. Saat itu rate agoda lebih murah, maka saya pilih pesan dari agoda. Saya memesan kamar twin bed. 

Cari Travel Partner yang Tepat

Daftar berikutnya yang harus saya selesaikan sebelum ke Tanjung Pinang adalah travel partner. Setelah berpikir lagi, kemudian saya mengajak rekan kantor instansi saya yang ada di Padang juga. Kakak ini juga mendapat panggilan dinas ke Batam di tanggal yang sama dengan saya. Nama kami sama, nia.

Sebelumnya saya juga sudah janjian akan menjelajah Bintan bersama seorang teman kost saya ketika kuliah dulu yang tugas di Batam. Jadilah kami bertiga menjadi grup kecil jalan-jalan ke Bintan. Saya sudah konfirm ke hotel juga bahwasannya kami boleh nambah extra bed. Nah bertiga cewek semua gini di Pulau antah berantah kan, saya makin getol mencari info sebanyak-banyaknya...

Sampai di Tanjung Pinang

Perjalanan dari kost ke Bandara Internasinal Minangkabau (BIM) kali ini benar-benar banyak cobaan. Damri yang sudah lama ditunggu sepertinya tak beroperasi. Hingga sejam tak lewat-lewat juga. Akhirnya ada teman kantor yang berbaik hati mengantarkan ke Bandara. Waktunya sudah sangat mepet. Saya baca banyak doa karena teman saya ngebut sangat kencang.

Sampai bandara rasanya lapar sekali. Kalau kalian ada yang kelaparan di BIM, saya rekomendasikan makan di Lumintu deh. Sotonya enak, pas anget gitu buat sarapan ataupun sebelum penerbangan malam. Cocok dipadukan dengan teh manis hangat. 

Sebenernya hingga naik pesawat saya belum punya kepastian mau kemana dulu lho di Pulau Bintan nanti. Saya nggak punya bayangan. List saya cuma tau mau ke Akau (tempat makan pujasera aneka masakan lokal) yang direkomendasikan Mas Efenerr, ke Pulau Penyengat yang terkenal itu, kemudian ke tugu pensil yang ada di fb Sidiq teman saya. Saya ingat pesan Mas Farchan bahwa saya wajib makan gong-gong dan otak-otak di Akau

Hoho kasian ya teman2 yang saya ajak, masih ngambang semua planningnya. Tapi kedua rekan seperjalanan saya sangat yakin saya sudah menyusun itinerary. Saya memang udah banyak planning tapi semrawutan gitu deh, sampai akhirnya sambil menunggu bagasi saya ngrumpi dengan pak polisi tadi.. Saya bingung saat Kak Nia menyebut di Batam itu kayak pulau kepisah-pisah dan dihubungkan jembatan satu sama lain.

Daripada bingung, saya menanyakan rute dari Bandara ke daerah Tiban apakah menyebrang atau tidak ke Bapak Polisi yang bareng saya dari Padang tadi. Belakangan saya malu dah nanya begituan, Tiban jelas-jelas di darat... Setelah koper datang saya berpamitan ke Bapak polisi yang tadinya mau mengantarkan saya, namun karena saya janjian dengan kak Nia (lagi-lagi nama panggilan sama) yang merupakan rekan kantor sebelah saya di Padang jadilah kami naik taksi ke rumah Muti. Taksi di Batam rupanya yang di bandara cuma port taxi dan tarifnya dipatok 80 ribu ke daerah tiban ataupun Harbour Bay.

Setelah berribet-ribet ria karena harus menunjukkan jalan ke sopir taksi yang nggak tau bahwasannya saya sebenarnya buta Batam, akhirnya kami sampai di rumah Muti. Kebodohan adalah ketika taksi yang mengantar tadi langsung kami biarkan pergi padahal kami ke rumah Muti cuma mau naruh koper dan langsung berangkat. Maka Muti pun bersusah payah pake motor ke jalan utama yang cukup jauh dari rumahnya untuk mencari taksi :p

Dapat taksi biasa dari Tiban 1 ke Pelabuhan Telaga Pungur cuma 60 ribu bertiga. Murah banget itu. Soalnya jauh lho, rutenya balik ke bandara dan masih jauh lagi terus saha dari sana. Saya jadi sedih dan terenyuh atas nasib Bapak taksi yang ini, emang bener kata Sudjiwotejo bahwasannya kita tuh belum ngelihat perjuangan hidup sampai melihat seorang wanita nawar harga. Si Muti jago nawar deh. Ya semoga rezeki Bapak yang baik ini dilancarkan Alloh SWT. Maap ye ngelantur lagi.

Dari Batam ke Bintan dapat ditempuh dengan Ferry. Ternyata Ferry ke Bintan bersih banget, dingin juga AC nya. Oiya sebelum masuk perahu ketika beli tiket semua loket penjualan tiket akan berteriak-teriak menawarkan, kayak orang marah-marahin kita. Lucunya Muti mau ngikut saya saja kemana beli tiketnya, tapi saya maunya ngikut Muti aja yang udah pengalaman, jadilah kami bengong-bengong cakep sambil cengengesan padahal diteriaki hello-hello gitu beberapa kali oleh beberapa penjaga loket tiket, tapi saat di hello hello-in itu saya malah ingetnya ke ost. opening paradise kiss movie yang dinyanyikan yui, wakakaka dasar otak saya emang ya begini inilah. Kami akhirnya memilih kapal yang belum pernah dinaiki Muti, buat coba-coba gituu ._.

Harga tiket ferrynya 40 ribu, ebuset murah banget yak, tapi pas masuk pelabuhan kita bayar lagi 7ribu yang sampai sekarang saya nggak ngerti itu iuran apa aja. Kami menikmati suasana di dalam ferry dan saya nggak bisa tidur, ya penyakit saya kan rumpi dah lama gak ketemu Muti, Kak Nia tidur, saya sendiri nggak bisa merem karena menikmati pulau-pulau yang dilewati dan laut biru kehijauan jernih bersih banget.

Yak sekian cerita saya sebelum ke Tanjung Pinang. Gimana kelanjutan kisah kami yang jalan-jalannya dipimpin oleh saya yang geje dan belum punya planning ini? haha nantikan post saya besok :p *sok asik*

You Might Also Like

1 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)