Jogja: Akhirnya Kesampaian Berkunjung Ke Museum Affandi

17:46


Sedikit cerita pengantar, saat SMA sepertinya saya sangat spontan dalam mengekspresikan hal-hal yang ada dalam pikiran saya. Masih terbawa samapai sekarang dengan kadar lebih minim tentu saja. Saya sering mengajak teman atau ikut teman untuk sekadar jalan-jalan atau mencari sesuatu ke Jogja. Waktu itu rasanya lega sekali kalau sudah ke Jogja. Bukan karena kesan keren atau gaul, cuma suka saja. Sesering itu ke Jogja namun saya belum pernah ke Museum Affandi. Kala itu ketika lewat Museum Affandi saya ingin melihat di dalam sana ada apa. Arsitekturnya begitu memikat mata jika dilihat dari luar. Saya memang bukan penyuka atau pemerhati seni (mungkin setelah dari Museum ini kemarin akan menjadi suka dan mulai memperhatikan), namun melihat design penataan museum ini yang begitu unik membuat saya yang awam ini pingin banget lihat-lihat. Seingat saya rasanya pernah mengajak teman atau teman dekat ke sana namun belum ada yang mau. Maka ketika salah satu housemate saya berkunjung sendirian ke Jogja, dengan senang hati saya meluncur ke sana dan ikutan jalan-jalan. Selasa 26 Agustus 2014 saya mengulang kunjungan ke beberapa tempat di Jogja, juga mendapat bonus bisa berkunjung ke lokasi yang belum pernah saya kunjungi seperti ke museum ini. Rasanya menyenangkan melihat "dunia lain", mendapatkan point of view baru dan tentu saja petualangan baru.

Selepas dari Mirota Batik, motor sewaan kami telah siap. Maka kami langsung menuju Jalan Solo, hendak ke Museum Affandi sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih jauh. Cuaca Jogja sangat cerah, panas menyengat. Tarif masuk museum adalah Rp 20.000 sudah termasuk free sofdrink/ice cream, tarif untuk izin memotret per kamera adalah Rp 10.000.

Sejarah singkat museum ini awalnya dibangun oleh Bapak Affandi  pada tahun 1962, kala itu beliau menyelesaikan pembangunan Galeri I yang digunakan sebagai ruang pameran lukisan, diresmikan Ditjen KEbudayaan Prof. Ida Bagus Mantra pada tahun 1974.

Memasuki studio satu per satu seolah menapaki tahapan kehidupan Affandi, perspektifnya tentang dirinya sendiri, Ibunya, Istrinya dan betapa sayangnya ia pada putrinya, Kartika (banyak karya beliau juga yang ditampilkan di museum ini, pada bangunan yang ada menaranya) yang terus bertumbuh dan makin kuat. Penyajian lukisan beliau runtut menggambarkan perjalanan kehidupan dan perkembangan gaya melukisnya. Saya terkesima dengan lukisan-lukisan beliau yang begitu menggugah untuk mengajak jujur pada diri sendiri. Saya amati satu persatu lukisan abstrak dan lukisan hitam putih lekat-lekat. Bikin nahan nafas. Galeri I memang memajang hasil karya Affandi sejak tahun-tahun awal hingga masa akhir hidupnya. Lukisannya ada yang berupa sketsa di atas kertas, lukisan cat air, pastel, serta cat minyak di kanvas. Selain itu ada patung hasil karya potret diri beliau bersama Kartika. Mobil Colt Gallant yang sangat unik yang telah dimodifikasi beliau menyerupai ikan juga dipamerkan di galeri ini. Selain itu banyak pula penghargaan pemerintah yang berderet menunjukkan betapa prestasi beliau sangat luar biasa. Pembangunan galeri lain di komplek tersebut berlanjut ketika tahun 1987 Presiden Suharto memberikan bantuan pendirian bangunan yang disebut GAleri II. LAlu GAleri III pun dibangun meneruskan konsep Galeri I pada 1997 diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ketika menilik studio lain dan melihat karya lukis dari pelukis lain, baru ngeh kekhasan lukisan beliau ataupun ciri khas lukisan pelukis lain, misalnya lukisan Kartika, beliau selalu menegaskan garis hitam pada benda atau pemandangan yang dilukisnya. Di galeri lain dipajang juga lukisan dari Putra Ibu Kartika. 

Makam beliau dan Istri ada di belakang Studio I. Bangunan-bangunan di museum ini unik dan nyeni sekali. Semakin apik pada bagian yang berteras teras karena kontur tanah. Cafe bertingkat yang atapnya seperti daun pisang, menara yang bisa dinaiki untuk melihat pemandangan kota dan bahkan gerobak yang pernah dijadikan ruang keluarga Affandi yang kini menjadi tempat sholat bagi pengunjung. Turun ke lokasi yang berkontur lebih rendah, kami menemukan karya lukis yang sepertinya dilukis oleh anak-anak. Juga sebuah galeri shop dengan teras yang unik dan terlihat sangat nyaman.

Baru kemarin saya tahu bahwa Gajahwong adalah nama sungai yang berada tepat di sebelah museum ini. Sebelumnya saya hanya tahu Gajahwong adalah nama kereta. 

Foto yang akan saya unggah di sini adalah hasil jepretan saya dan the talented Ms. Decci Faroza. Ternyata hasil DSLR emang selalu terbaik. Huhuhu. Thx for sharing the journey with me :)



lukisan kartika
Galeri seni atau museum ternyata tak membosankan

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)