Warisan Keraton Jogja: Taman Sari

16:03

Ketika di Jogja beberapa waktu yang lalu, senang sekali akhirnya saya bisa ke tempat ini. Tiba di sini saat cuaca sedang cerah-cerahnya. Selepas membeli tiket masuk kami ditawari guide yang saya rasa resmi karena berseragam yang sama dengan penjaga tiket masuk. Sedangkan di dalam lokasi taman sari banyak sekali guide berbaju batik. 

Awalnya saya dan teman saya menikmati pemandangan luar biasa menyegarkan di siang terik di dekat kolam taman sari. Kami berencana tidak menggunakan jasa guide. Namun saat kami ngobrol ada Bapak-Bapak yang nimbrung dan terus mengikuti kami. Karena tak enak akhirnya kami biarkan si Bapak menjadi guide kami. Benar-benar rezeki Bapak ini, kami nggak punya uang kecil. Hehe tak apalah anggap sekalian beramal. Adapun tarif guide yang tercantum di web yogyes adalah tawar menawar sekitar 10-20 ribu, kalau menurut syaa 30 ribu. Tapi terserah kita aja, sesuka hati, keterangan dari saya cuma patokan aja bagi yang sungkan mau ngasih berapa biar jadi punya gambaran.

Taman sari konon dulunya luas sekali, tidak seperti saat ini, kita bisa mendapatkan penjelasan dan diberitahu batas-batas danaunya di jaman dulu dari guide. Karena beberapa sejarah yang saya baca agak membingungkan, maka saya tidak akan menceritakan sejarahnya dengan detail. Design arsitektur taman sari sangat luar biasa, bahkan ada lorong-lorong air yang dapat kita susuri. Nah salah satu ujung lorong ada yang ditutup, konon hanya Sultan yang boleh masuk ke sana untuk menuju pantai selatan. Namun ini hanya mitos, benar tidaknya kita tidak tahu, hehe. Di dekat kolam utama kita bisa melihat-lihat ruangan puteri keraton jaman dulu bersauna, haha ternyata sauna udah ada dari jaman dulu ya.

Sepertinya semua susunan bangunan dan designnya memiliki kisah dan tujuan masing-masing, pembangunan yang benar-benar penuh perencanaan di masa lampau, dihiasi ukiran-ukiran dan pahatan yang masih bagus maupun yang sudah direkonstruksi dengan apik, hal inilah yang dapat kita nikmati di sana. Taman Sari bukan hanya kolam air dan bangunan megah di sekitarnya, keluar dari lokasi yang ada kolam utamanya kita langsung memasuki pemukiman penduduk yang berbatasan langsung dengan taman sari. Kami pun terkagum oleh kreatifitas mural di dinding-dinding pagar yang kami lewati. Tak hanya itu, banyak dipajang lukisan karya penduduk lokal di pinggir jalan di dekat reruntuhan masjid yang ada lorong airnya. Lokasi kampung ini ternyata di belakang FKY (Festival Kesenian Yogya) yang juga telah kami kunjungi malam sebelumnya. Pantas saja semua hal seni sangat banyak di sekitar sana. :)

Kabarnyaa taman sari pada lokasi foto terakhir saya akan direkonstruksi namun terkendala relokasi rumah penduduk yang berdempetan dengan bangunan ini. Saya rasa hal tersebut akan menajdi sulit apabila tidak ada win win solution, jangan sampai masyarakat dirugikan dan juga heritage building ini juga jangan sampai rusak atau tergerus pembangunan yang tidak bertanggung jawab. Tempat tersebut merupakan tempat terakhir yang kami kunjungi setelah puas menyusuri lorong-lorong airnya yang sedikit spooky namun tidak sespooky goa batubara atau goa jepang, hehe. Berjalanlah keluar bangunan ini di bagian yang ada reruntuhan maka kita bisa melihat pemandangan luas yang hijau dan perkampungan di Yogyakarta sembari menikmati semilir angin segar di siang yang panas. :)

Foto oleh Decci Faroza



You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)