Dendeng Batokok Favorit, Lapau Nasi Mama

07:17

Liburan UAS kali ini saya balik lagi ke Padang. Hampir semua orang akan mengkorelasikan tentang wisata kuliner ketika menyebut Padang. Saya pun demikian, saya sudah rindu aneka masakan Padang aseli yang emang cuma bisa ditemukan di sini. Beberapa daftar nama tempat makan favorit saya dulu sudah saya agendakan untuk dikunjungi.

Selepas dari bandara kemarin malam, saya langsung menuju salah satu Lapau Nasi favorit yang dendeng batokoknya paling enak versi saya. Mungkin bagi orang Minang aseli yang emang sering dimasakin dendeng batokok oleh ibunda atau neneknya bakal bilang biasa aja. Tapi buat lidah jawa yang sudah terkontaminasi kelezatan bumbu masakan minang seperti saya, rasanya belum ada dendeng batokok yang bisa mengalahkan dendeng Lapau Nasi Mama dibanding tempat makan lainnya.

Lapau Nasi ini sudah memiliki beberapa cabang yang buka dari pagi sampai malam, namun untuk yang di Jalan Veteran hanya buka mulai sore sampai malam. Lapau Nasi Mama yang pertama bagi saya adalah yang di Jalan Veteran ini, persis seberang Natasha Skincare. Saya sudah menjajal Lapau Nasi Mama di tiga cabang lainnya namun belum menggeser keotentikan dendeng batokok yang di Jalan Veteran. 

Kenapa saya suka banget sama dendeng batokok di sana? Karena saya nggak suka dendeng kering, saya sukanya dendeng yang masih agak basah dan ditokok alias dendeng batokok. Lado hijaunya lamak bana. Lado hijau adalah sambal cabe hijau. Saya kurang suka dendeng batokok yang dilado merah. Selain itu pengolahan dagingnya pas bagi saya, nggak alot, enak dikunyah dan nggak gampang nyangkut di gigi. Duh langsung lapar lagi deh. 

Ampera, nasi kapau maupun lapau nasi di Padang biasanya menyajikan masakannya dengan kerupuk atau keripik dan sayur cubadak (nangka) atau daun ubi (daun singkong). Nah di Lapau Nasi Mama tuh selalu ada daun singkong muda yang direbus thok tanpa disantan, saya butuh banget sayur hijau semacam ini. Bagus untuk tubuh saya dari sisi ayurvedic. Selain itu keripik sanjainya (keripik singkong) kering dan pas bumbunya jadi cucok bangat sebagai sampingan kudapan utama yang menambah kegurihan citarasa. Jangan lupa minta lado hijaunya dibanyakin ketika memesan dendeng batokok. Jika dirasa masih kurang pedas saya sudah mensiasati dengan minta sambal merah untuk dicocol dengan nasi nantinya.

Kunjungan saya kemarin sudah pukul 8 malam, jadi dendeng batokoknya tinggal dikit, lado hijaunya juga sudah minim, huhu. Waktu yang tepat untuk mendapatkan dendeng batokok lado hijau dengan komposisi yang pas (dagingnya masih banyak yang irisannya gede-gede, dan udanya masih kasi mure lado hijau yang kita mau) adalah pukul 5 sore ketika lapau ini baru buka. Saya juga suka sop daging sapi di sini.

Nah sebagai penutup ini foto dari kunjungan saya kemarin, maap cuma satu karena sudah lapar bana haa.. Ini dendengnya udah ukuran agak kecilan karena udah mau abis, ladonya dikit, daun singkongnya sih banyak, terkubur di bawah dendeng. Hihi. 

You Might Also Like

8 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)