Siem Reap: Eksotisme Angkor Wat

17:56

Setelah sebelumnya saya ceritakan tentang bagaimana perjalanan saya dari Bangkok ke Siem Reap via darat dan cerita apa saja di balik perjalanan tersebut, kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya ketika menelusuri Siem Reap dan beberapa candi yang saya kunjungi di sana. Sebenarnya saya hanya bermodal mencari informasi via internet saja ketika hendak ke Siem Reap. Blog mengenai perjalanan di Siem Reap dan trip advisor sangat bermanfaat. Banyak-banyak googling aja jika mengalami hal yang sama dengan saya, tidak ada yang bisa ditanyai mengenai bagaimana di Siem Reap.

Dalam imajinasi saya, Kota Siem Reap akan berkilauan di malam hari karena emas pada candi-candinya memantulkan cahaya lampu dan cahaya bulan, namun ternyata tipikal candinya seperti di Borobudur dan Prambanan, tentu saja tidak berkilauan seperti imaji saya tadi. Bayangan tentang banyaknya granat yang ditanam saat zaman perang dulu benar-benar saya lupakan ketika di sana, ingetnya justru ketika mengulang baca buku akar sepulang dari Siem Reap. Kondisi Kota Siem Reap juga di luar ekspektasi saya, yang saya kira bakalan ndeso di pelosok dan sepi, ternyata justru dipenuhi hotel-hotel dari jaringan hotel internasional. Selain itu banyak juga guest house dan penginapan ala backpacker yang sangat terjangkau. Angker beer eh Angkor Beer tentu saja ada di mana-mana di setiap warung/cafe/resto/rumah makan dll di Siem Reap.

Selain itu kata khmer awalnya saya kira merupakan suatu kata yang berbahaya yang tidak boleh diucapkan sembarangan. ide ini terbersit dalam pikiran saya karena dulu Kamboja sempat rusuh dengan adanya Khmer Merah. Setelah di Siem Reap saya baru tau kalau sepertinya Khmer justru dijadikan sebutan untuk suatu hal yang khas Kamboja. Khmer Style! :D

Sedikit mengulas mengenai sejarahnya, Siem Reap artinya keruntuhan Siam (sekarang Thailand), area ini dulunya menjadi rebutan antara Siam dan Kamboja karena lokasinya yang strategis, menjadi jalur utama di kedua kerajaan. Karena orang Siam dan Kamboja masih erat sejarahnya, maka perangnya disebut juga perang saudara, perang tersebut berlangsung dalam kurun waktu yang panjang.

Karena keterbatasan waktu rekan-rekan saya, kami memutuskan untuk one day trip saja di Siem Reap. Oleh karena itu kami harus mengalokasikan waktu yang ada semaksimal mungkin. Maka kami sepakat untuk mengunjungi tiga candi yang paling terkenal saja, yakni Angkor Wat, Ta Phrom dan Bayan.

Seperti ketika dulu 2011 saya ke Phi Phi Island dan Mahya Bay padahal belum nonton The Beach, maka demikian halnya ketika saya ke Angkor Wat yang kabarnya lokasi shooting Tomb Raider with the famous Angelina Jolie. Saya pun belum pernah menonton film tersebut. Jadi benar-benar tidak punya gambaran yang cukup konkrit tentang Angkor Wat.

Ketika kami tiba di depan Angkor Wat, kami sangat terkesima dengan mystical ambience-nya. Tanah di sana warnanya merah. Karena belum makan sedari Aranyaphrathet, saya beli mangga dulu sebelum masuk ke Angkor Wat. Ini semacam kebiasaan bawaan dari Thailand, kalau belum makan jajannya buah potong, Di Angkor Wat semua buah harganya 1 USD. 

Boulevard Angkor Wat cukup megah dan panjang dengan danau di kanan dan kirinya. Boulevardnya ini sekaligus jembatan untuk menghubungkan jalan utama tempat kami parkir mobil dengan Angkor Wat, bahannya terbuat dari batu. Jaman dulu sudah canggih dan kokoh juga ternyata konstruksinya. Kata Ibu saya boulevard tersebut sempat runtuh beberapa tahun yang lalu sehingga banyak turis yang tercebur ke danau, Ibu saya melihat dari tayangan televisi, saya sendiri tidak tahu berita tersebut dan sampai saat menulis ini belum berusaha googling untuk mencari tahu.
Saat saya sedang menunggu teman saya yang tertinggal di belakang, di pelataran utama Angkor Wat sedang ada beberapa biksu kecil dengan wajah polosnya. Mereka lucu sekali, karena saat mereka berkumpul banyak yang memotret, akhirnya mereka pose seperti foto di bawah ini. Si biksu ditemani Ibu dan Kakaknya, mungkin hari itu hari kunjungan keluarga bagi biksu-biksu yanh masih anak-anak.
Angkor Wat ini ternyata sangat luas, setelah melewati boulevard pertama,  kita akan sampai di gerbangnya yang memanjang (sangat panjang dibanding candi lain yang pernah saya lihat) ke kanan dan kiri, setelah itu akan ada boulevard kedua yang juga masih cukup panjang untuk menuju candi utama. Dari gerbang tadi ukiran di reliefnya sudah sangat jelas, saya memperhatikan beberapa. Banyak sejarah perang dengan armada gajah digambarkan di sana. Kebanyakan cerita pada relief sepertinya adalah cerita epos dan keseharian para penghuni Istana Angkor Wat. Jika ingin benar-benar mempelajari sejarahnya banyak tourist guide berseragam yang bisa diminta jasanya. Saat itu Angkor Wat sedang direnovasi sehingga tidak semua sisi dapat kami kunjungi.
DI tengah perjalanan pada boulevard kedua ada dua candi di kanan dan kiri yang ukurannya sedang. Siem Reap sangat panas sehingga kedua candi tersebut justru dijadikan area duduk-duduk dan tidur-tiduran oleh turis lokal yang kegerahan dan kelelahan. Adanya danau yang mengitari Angkor Wat, boulevard dan kedua candi di kiri dan kanan tadi mengingatkan saya pada tata letak di Candi Muaro Jambi, sangat mirip.
Banyak patung Buddha dan orang-orang yang sedang beribadah di sana. Sebaiknya kita tidak mengganggu mereka, paling tidak jangan berisik di dekat orang yang sedang beribadah. Area Angkor Wat sangat luas, banyak lorong panjang dan masih ada area di lantai atas yang sangat menarik. Jadi meskipun capek, saya dan teman-teman terus berusaha supaya semua bagian Angkor Wat bisa kami telusuri semuanya. 
Untuk menuju lantai atas, kita tidak diperkenankan memakai penutup kepala, misalnya topi dan segala jenis penutup kepala selain jilbab.
Pada setiap jengkal langkah kami menelusuri Angkor Wat, rasanya seperti sedang berjalan dalam peradaban masa silam. Jangan lupa foto di kolam depan Angkor Wat yang sudah sangat ikonik itu. Di sana kita bisa mendapatkan foto cantik dengan refleksi Angkor Wat dari kolam. Konon kabarnya ada legenda di kalangan traveller, bahwasannya waktu terbaik untuk berkunjung ke Angkor Wat adalah pada pagi hari sembari menunggu sunrise di dekat kolam ini.
Tak terasa waktu kami banyak tersita untuk keliling Angkor Wat dan memperhatikan cerita dalam reliefnya yang cukup panjang. Padahal waktu kami cukup sempit dan masih harus ke dua candi lain. Oiya, setelah saya perhatikan muka saya kok jadi ikutan berubah mirip orang Kamboja ketika foto-foto di sana. Hahaha.

Keluar dari Angkor Wat saya dan Indhi beli kelapa muda yang rasanya uenak banget, seger banget kayak ada santan dan susunya meski batoknya kecil. Bahkan di Pattaya kami menemukan yang casingnya sama namun rasanya jauh berbeda, kami sangat rindu kesegaran air kelapa muda Khmer Style tersebut. Belakangan saya tahu dari Ibu saya kalau itu bukan kelapa muda namun buah lontar. Kata Ibu saya lagi nih, buah lontar itu tadi banyak di Semarang. Oke, emang umur nggak pernah boong ya, pengalaman hidupnya tentu lebih banyak.
Jangan lupa kunjungi juga foto perjalanan saya di Wat Tha Phorm dan di Bayon.

You Might Also Like

2 comments

  1. assalamualaikum mba nia.. permisi mba nia, ini qobul dari manado sulut, mba boleh tanya2 mba via whatsapp atau sms ? di nomor 08561544424

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)