Independence Run

14:28

Pagi tadi (31/08/2014) saya ikutan Independence Run. Ini event lari kedua yg saya ikuti. Sebelumnya hanya 5K kali ini 8K. Event ini gratis dan menargetkan 45.000 peserta yang melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia yaitu tahun 45. 

Kami berangkat dari Bintaro sekitar pukul 05:10 lalu berputar putar mengantisipasi jalan mana yang sudah ditutup untuk event ini dan CFD karena hari ini hari minggu, untuk menuju Medan Merdeka Timur yang merupakan lokasi start. 

Parkir motor peserta ternyata di stasiun Kereta Api Gambir. Di sisi yg dekat Monas sudah penuh sekali antriannya, maka kami diarahkan ke pintu masuk parkir motor di sampingnya yang juga antri panjang dan nggak karuan line antriannya. Akhirnya kami parkir di seberangnya, di RS Pertamina yg masih longgar.

Sampai di lokasi start sudah mepet mau mulai. Benar saja, kami belum sampai depan para peserta sudah banyak yg meluncur melewati garis start. Sayangnya para peserta yg duluan tersebut, yg jumlahnya ribuan, justru kebanyakan berjalan kaki dan membuat yg ingin lari agak kesulitan. Mengikuti peserta lain, kami lari di jalan pada sisi kanan yang sebenarnya bukan jalur lari kami, ini karena di sisi kiri benar2 menjadi lautan manusia jalan santai yg sulit ditembus. Tak seperti biasanya, baru di kilometer awal saya udah sesak napas. Saya emang nggak tahan kalau olahaga di tempat yang penuh manusia, tersugesti kekurangan oksigen. Namun saya terus lari sampai kilometer kedua lalu mulai jalan, lari jalan lari jalan begitu seterusnya tapi kebanyakan jalan. Karena nggak konsentrasi 8 Km jadi terasa sangat jauh. Padahal kalau fokus dan atur nafas dengan benar biasanya masih lari terus sampai kilometer ke-5. Pos air terasa jauh sekali, saya pun beli minum di abang2 penjual pinggir jalan. 
Tiba2 ada sirine di sisi jalan sebelah kanan, ternyata banyak peserta 8k yg udah balik arah udah hampir finish. Hebat mereka mampu lari stabil di tengah sesaknya kerumunan orang. Wah jadi kembali semangat dan ingin lari terus biar saya bebas dari desek-desekan, tp apa daya nggak fit. 

Bertemu dengan teman kost ketika kuliah D3 di km 3, saya jadi punya teman ngobrol sembari jalan lari jalan. Ga kerasa udah kilometer ke lima. Karena pengen cepet sampai saya lari2 kecil namun sesek napas makin parah jadi saya cuma lari sekuatnya. Huu parah bgt. Garis finish terlihat dan saya lari untuk mencapainya.

Entah karena ini event gratisan atau memang karena kurang persiapan, medali dibagikan dengan dilempar-lempar dan berebutan. Saya terjebak desak2an dan terdorong sampai lutut menyentuh tanah. Banyak wanita lain yg jatuh di depan saya dan sepertinya mereka jatuhnya lebih parah. Dengan sekuat tenaga yg sudah sangat minim sisa dari jalan 8k tadi, saya berusaha berdiri kawatir keinjek injek kalau misal saya sampai jatuh tengkurap. Bar bar banget, orang-orang di depan saya berebut medali sampai tarik2an. Sejak terdorong td saya sudah nggak minat dengan medali. Tmn saya yg sampai duluan tadi juga mengalami kerusuhan yg mirip, katanya berebutan sampai pagar pembatas ambruk.

Mengenai pembagian medali yg rusuh ini saya rasa karena panitia yg kurang profesional dalam hal pembagian medali. Sangat kurang manusiawi dilempar lempar pembagiannya dan memicu keributan. Saya tidak menyangka ada event lari yang seperti ini rusuhnya. Saran dari saya tempat pembagian medali agak di dalam dan diatur agar antriannya satu-satu saja sehingga yang benar2 sampai duluan yg dpt. Jika saya boleh beropini, pelayanan pembagian medali dan lainnya yang ditujukan untuk peserta lari, agak dikesampingkan karena ada presiden dan banyak hal lainnya yang dianggap lebih perlu diperhatikan. Tapi yah sistem pembagian medalinya bener2 traumatis. Di sisi lain peserta juga benar2 tidak punya rasa toleransi dan budaya antri. Serakah ada yg mengambil beberapa medali sampai tarik-tarikan. Menyeramkan. Keserakahan dan mau memang sendiri memang hampir menjadi hal umum yg kadang dianggap "biasa saja" di kalangan masyarakat kita, namun hal ini bisa dihindari dengan sistem yg baik dari panitia. Saya jg bisanya cuma nulis gini, berharap ada perbaikan jika dilaksanakan lagi tahun depan. Atau jangan dijadikan event gratis agar panitia lbh baik pelayanannya dan yang ikutan beneran yang pengen lari. Di luar semua itu saya berterima kasih kepada penyelenggara karena bisa ikut event ini gratis. Jika berbayar tadi pasti lebih banyak yang marah2 karena nggak kebagian medali. 

Lepas dari rombongan bar-bar yang berebut medali dan tega menggencet para wanita, saya antri pisang dan minuman. Hal serupa kembali terjadi di tenda penbagian sisi kiri, terjadi aksi dorong2an dan rebutan. Lalu saya pindah ke sisi kanan. Di sana petugas tertib membagikan satu orang satu untuk pisang dan minuman. Sedangkan disisi kiri tiap orang bisa ambil dua atau bahkan saya lihat lima atau enam pisang. Miris betapa egois dan koruptifnya orang-orang ini. Mereka tidak mengkhawatirkan peserta lain tidak mendapatkan jatah dengan mengambil banyak-banyak. Ah, seandainya para petugas setegas petugas di tenda kanan yang berani menertibkan para peserta, mungkin keributan bisa dihindari.

Setelah semua keributan itu, kami menonton marching band ciamik dan menghibur yang saya rasa para pemainnya berasal dari akmil. Cmiiw ya kalau saya salah. Bagus serempak semua gerakan dan menular semangatnya ke para penonton yang tadinya sudah kehabisan energi karena berdesakan.

Marching band berlangsung sekitar satu jam, lalu ada terjun payung dari paskhas, kopasus, dan dari semua perwakilan dari unit militer yang mempunyai atlet terjun payung, juga ada dari brimob. Jumlah penerjun ada 69 sebagai lambang usia kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dibacakan pula oleh MC (dari suara dan nadanya sepertinya MC istana negara yang sering kita dengar ketika upacra bendera 17 Agustus) tentang prestasi dan karier para penerjun. Secara individu, militer kita ternyata nggak kalah kualitasnya di kancah internasional. Bahkan beberapa penerjun merupakan wanita. Saya sebagai warga sipil turut bangga apabila negara saya memiliki prajurit yang mumpuni dan cerdas. Semoga dari tahun ke tahun TNI semakin membanggakan.

Atraksi terjun payung td merupakan closing Ceremony Independence Run. Lalu kami pulang. 

Event ini juga mempertontonkan alutsista berupa tank di garis finish dan ketika saya sampai di kilometer ke-6 ada sekitar 5 pesawat baling-baling yang melakukan atraksi. Dari celetukan peserta lain yang katanya "kayak jaman perang aja ya", saya jadi berimajinasi ke jaman perjuangan di mana pasti banyak sekali pesawat tempur yang lalu lalang di udara dan banyak orang mengantri kebutuhan pokok yang langka seperti antrian kami mencapai garis finish. Haha. Para penerjun diturunkan dari pesawat CN 950, cmiiw. Pesawat tersebut tidak terdengar dan tidak terlihat, tau-tau penerjun sudah muncul di langit dengan warna warni parasutnya. 

Baru pertama kali lihat terjun payung secara langsung di depan mata, sangat menghibur. Ikut merasakan keseruannya. Selanjutnya saya akan pikir2 dulu untuk ikut event lari, mungkin dengan memperhatikan jumlah peserta :)

You Might Also Like

1 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)