Piknik Singkat di Taman Hutan Raya (THR) Juanda

Piknik tak harus dilakukan ke tempat yang jauh bukan? Taman Hutan Raya Juanda bisa menjadi pilihan lokasi piknik yang terjangkau dari segi lokasi maupun biaya bagi warga Bandung maupun siapa saja yang sedang berkunjung ke Bandung. Anak-anak kecil bisa diperkenalkan secara visual tentang hutan dan pepohonannya, gimana rasanya masuk ke goa jepang dan serunya trekking.

Berada di Jalan Ir. H. Juanda, taman hutan ini sangat segar udaranya di kala pagi, juga teduh untuk jalan-jalan siang maupun sore. Saya suka sekali dengan pohon-pohon yang ada di sana. Kapan dan siapakah yang menanam? Mana lokasinya dekat kota, seperti di luar negeri ih kota banyak RTH yang luas. Luar negeri yang saya maksud mungkin di Tokyo Jepang, sebagian Australia dan Amerika.
Hari terakhir di Bandung saya sempatkan ke Taman Hutan raya Juanda ini. Kami menempuh kemacetan Jalan Ir. H. Juanda di pagi menjelang siang. Setelah ragu dan hampir salah akhirnya nemu gerbang masuknya. Kami membeli tiket di loket lalu diberitahu bahwa jika ingin membawa motor masuk maka lewat pintu masuk yang lain.

Karena waktu kami memang sangat terbatas tentu kami sangat tertarik dengan informasi tersebut. Singkat cerita ketemulah loket yang dimaksud, lalu kami parkir sambil berdebat sampai apa nggak nih waktunya karena saya ngotot mau ke air Terjun Omas yang cukup tinggi. Menurut saya, kayaknya sia-sia ke sini kalau nggak ke air terjun alias curug.

Pohon di Taman Hutan Raya Juanda jauh lebih rimbun dan banyak dari pada pepohonan di Kebun Raya Bogor. Kami sepakat nggak usah ke goa jepang pokoknya ke air terjun saja. Kami mengira ada beberapa air terjun dan pasarah aja mana air terjun yang pertama kita jumpai, maka yaudah cukup sampai situ saja piknik singkatnya.

Setelah berjalan dari lokasi parkir ke arah air terjun, kami melihat banyak motor masuk ke jalan yang tadinya kami kira nggak boleh dilewati motor. Maka kami segera kembali ke tempat parkir untuk mengambil motor, jarak baliknya lebih dari 500 meter, jadi kira-kira kami olahrga dikit lah ya dengan jalan 1 KM. Fyi, parkir motor di tiap lokasi musti bayar, masing-masing 2 ribu rupiah.
Memasuki jalan kecil ke arah air terjun ternyata ada beberapa kuda yang bisa dinaiki bagi yang berminat. Sesampai di goa jepang, ada petunjuk jalan curug 1km dan Curug Omas 5 km, kami pun bingung, kenapa sejak di gerbang masuk sampai sekarang curugnya masih 5 km terus jaraknya?

Apakah curug yang 1km beda dengan Curug Omas? Karena ragu kami turun dan bertanya (parkir lagi nihyee), sekalian ke toilet. Akhirnya kami yakin jalan terus setelah nanya ke Bapak Penjaga Parkir Motor di dekat goa jepang. Saat itu kayaknya nggak ada curug lain selain Curug Omas, mungkin karena belum musim hujan. 
Setelah mengikuti jalan yang ditunjukan si Bapak parkir, jalanan berubah sempit layaknya lokasi trekking. Makin masuk ke dalam ternyata ada tukang ojek. Rupanya tukang ojek mengambil lokasi yang sangat strategis, di mana sebagian orang yang jalan kaki dari gerbang akan mulai ter-engah-engah dan tergoda untuk menggunakan jasa ojek. Banyak rombongan anak sekolah dan mahasiswa pada waktu kami lewat sana. Kami bersyukur banget bawa motor ke sini.

Semakin ke dalam dan ke dalam pepohonan besar dan rindang berubah digantikan vegetasi pohon cemara atau pohon pinus tinggi menjulang, bagus banget. Asik bisa menikmati pemandangan seperti itu tanpa naik gunung, ini tanpa jalan pula kan.

Walaupun naik motor, lama-lama kami curiga ini 5 km macam apa ya kok nggak sampai-sampai. Meski begitu kami jalan terus, sudah kepalang tanggung. Di kedalaman taman hutan sana ternyata ada beberapa saung jualan mie instan dan lainnya, juga tersedia toilet. Sepertinya ini peradaban terakhir sebelum Curug Omas.
Ketika kami sampai pada sebuah jembatan, kami ragu untuk melanjutkan siksaan terhadap vario yang kami tumpangi karena jalan di seberang jembatan yang menanjak dan terjal. Kami pun parkir dan menanyakan lagi kepada penjaga parkir apakah betul curug sudah dekat. "Iya sudah dekat," katanya. "500 meter lagi," tambahnya. Namun 500 meter tersebut rasanya seperti dua kilometer, padahal kami sambil lari-lari kecil ke sananya karena hari sudah mulai siang. Orang-orang yang kami salip sepertinya kagum dengan ketahanan kami mendaki. Tentu saja kami kuat, tenaga belum dikeluarkan sama sekali sedari tadi, hehe.
Disambut dengan suara gemericik air, muncullah sungai berbatu dengan jembatan gantung yang apik. Lho itu curugnya??? Ternyata tak setinggi curug di kampung-kampung dekat desa saya yang sering saya kunjungi sewaktu kecil. Tapi tak apalah, ini curug terkelola yang indah, apalagi sekelilingnya dihiasai pohon pinus yang menjulang dan vegetasi pohon pendek-pendek dengan daun berwarna warni khas gunung, Yeay lega sudah sampaiiii. Tetapi sayang sekali di sungai yang di bawah curug banyak sekali sampah entah darimana.
Di tempat landai setelah menyeberangi jembatan banyak yang jualan "lagi", asik banget sepertinya menggelar tikar lalu duduk-duduk di sana sembari menyantap bekal dari rumah. Tempat pikinik yang patut direkomendasikan nih.

Tak berselang lama kami segera kembali ke parkiran untuk pulang. Ternyata parkir yang terakhir ini agak mahalan, lima ribu rupiah. Saya coba maklum, mungkin jasa parkirnya mahal karena jauhnya jarak yang ditempuh si Bapak Parkir untuk sampai sini. Oiya hampir semua penjaga parkir di taman hutan ini sudah sepuh. Hebat-hebat euy. 
Sepertinya lokasi wisata berlatar alam sedang menjadi trend di Bandung. Dari Bukit Moko, Tebing Keraton, Kawah Putih Ciwidey, berbagai taman bunga yang salah satunya di Parompong dan Taman Hutan Raya ini semuanya menjual pemandangan alam, ada yang alami ada yang hasil usaha manusia. Semoga hal ini menyadarkan banyak pihak untuk turut serta menjaga kelestarian alam baik di Bandung maupun di mana saja.

Seiring dengan kebijakan walikota Bandung yang membuat banyak taman di Kota Kembang ini, saya rasa masyarakat Bandung akan lebih terlatih untuk menjaga tamannya dengan minimal tidak membuang sampah sembarangan.

Semoga makin banyak pimpinan daerah yang mengambil kebijakan serupa, karena wisata taman ini sangat murah dan dapat dijangkau seluruh kalangan. Selain itu juga sebagai sarana menjaga alam dan melatih paksa masyarakat yang buang sampah sembarangan dengan denda seperti yang baru-baru ini mulai digalakkan Pak Ridwan Kamil. Hei anak kota ayo piknik ke hutan ;)

2 comments:

  1. Ahhh.....pas ke tebing keraton nggak sempet mampir ke sini, next kudu lah geret abang ke sini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini medannya ga seberat tebing keraton Jeng. Sejuuk :)

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)

Powered by Blogger.