Wisata Kota Sawahlunto: Museum Gudang Ransum

Hari Sabtu di bulan lalu secara insidental saya dan rekan-rekan kantor berkunjung ke Sawahlunto untuk jalan-jalan me-refresh pikiran yang sudah ruwet oleh kerjaan (padahal mah masih baru awal tahun :p). Setelah berkunjung ke Musem Kereta Api Sawahlunto dan Lobang Mbah Suro, kami lanjut ke Museum Gudang Ransum, sebuah lokasi peninggalan Belanda yang masih dikelola dengan sangat baik oleh Dinas Pariwisata Sawahlunto. Museum ini diresmikan 17 Desember 2005.
Baru sekali ini saya ke museum di Indonesia yang disuguhi film di ruangan audio visual yang nyaman yang khusus untuk menanyangkan kisah sejarah dari museum tersebut. Tempatnya bersih dan terawat.
Ruang Audio Visual
Di museum ini banyak peninggalan alat memasak untuk orang banyak. Jadi kita bisa melihat wajan dan peralatan masak raksasa yang digunakan untuk menyediakan ransum bagi ribuan orang pekerja tambang dan orang yang sedang dirawat di rumah sakit tambang kala itu.

Kita juga bisa napak tilas betapa pemerintah kolonial saat itu sudah memiliki sistem pengelolaan pangan yang menurut saya canggih dan efisien dengan memanfaatkan bahan bakar dari sumber daya alam yang sangat melimpah di Sawahlunto yaitu batubara. 
Peralatan yang bisa kita sebut sebagai kompor raksasanyanya yaitu bangunan yang berwarna merah merupakan buatan Jerman, ada tahun pembuatannya di situ. Betapa lama sudah bangunan itu berdiri di atas tanah Sawahlunto dan menjadi saksi perkembangan zaman. Mereka mengalirkan panas hasil pembakaran batubara ke tungku-tungku raksasa dan mengurangi kepulan asap dapur dengan mengalirkannya ke cerobong yang cukup tinggi. Bagi saya cerobong yang menjulang ini justru menambah nilai estetis bangunannya.
Peralatan yang bisa kita sebut sebagai kompor raksasanyanya yaitu bangunan yang berwarna merah merupakan buatan Jerman, ada tahun pembuatannya di situ. Betapa lamanya sudah bangunan itu berdiri di atas tanah Sawahlunto dan menjadi saksi perkembangan zaman. Mereka mengalirkan panas hasil pembakaran batubara ke tungku-tungku raksasa dan mengurangi kepulan asap dapur dengan mengalirkannya ke cerobong yang cukup tinggi. Bagi saya cerobong yang menjulang ini justru menambah nilai estetis bangunannya.
Selain itu di sana kita bisa melihat sisa-sisa senjata yang digunakan entah untuk pertahanan atau meledakkan lobang untuk menambang dan banyak baju-baju adat dari beberapa daerah di Indonesia, misalnya Minang, Jawa, Batak dan bahkan ala keturunan China pun ada. Lebih serunya lagi nih, ada bangunan khusus untuk mendisplay beberapa hal mengenai sejarah dan wisata Kota Melaka-Malaysia, saya berharap di Melaka sana juga ada museum yang mendisplay mengenai Sawahlunto :p

Museum IPTEK

Ke TMII atau Taman Pintar Jogja dari Sawahlunto memang jauh banget dan mahal, tapi di museum ini ada juga gedung iptek mirip-mirip wahana di kedua tempat tadi, jadi Bapak Ibu dan Kakak sekalian yang tinggal di sekitar Sumatera Barta, silakan ajak anak atau adiknya ke sini ya, setiap sore juga banyak adik-adik berlatih tari tradisional di sini.

Museum Persahabatan dengan Malaysia

Malaysia merupakan negara tetangga yang cukup mirip dari segi bahasa dan makanan dengan Minang. Nah di museum ini waktu itu ada ruang khusus dipamerkannya baju-baju dan benda-benda adat untuk upacara-upacara hari besar dari Malaysia dan dari Indonesia, termasuk pernikahan. 

Ada baiknya memastikan jam pemutaran film di ruang audio visual atau luangkan waktu untuk di sana supaya dapat manfaat lebih atas kunjungan kemari. Bangsa yang menghargai sejarah akan menjadi bangsa yang semakin maju, bukan? Mari jadi masyarakat yang sadar sejarah :)

Setelah dari Museum Gudang Ransum, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Binatang Sawahlunto.

No comments:

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)

Powered by Blogger.