Jogja Selalu Berbeda

08:14

Ya, jogja selalu berbeda dalam setiap kunjungan saya ke sana.
Mungkin karena ke sananya dengan orang-orang yang berbeda jadi ikut mengubah sudut pandang saya.
Kali itu saya ke sana menemani sepupu saya mencari oleh-oleh untuk teman-temannya di Jakarta.
Dulu sepupu saya ini bandel dan bawel banget, sekarang dia sudah SMA, udah nggak rewel dan kooperatif.

Karena pergi ke sana sama turis lokal usia muda, saya melihat Malioboro dan penjuru jogja yang ternyata disesaki orang-orang dari jakarta dan berbagai daerah lainnya yang ingin menghabiskan idul fitri di suasana Jogja.

Di sepanjang malioboro hampir semua pedagang sibuk tawar menawar dengan turis lokal dengan bahasa Indonesia, ini agak jarang, biasanya kebanyakan pake bahasa Jawa. Turis mancanegara juga cukup banyak dan terlihat kepanasan di teriknya Jogja.

Kesederhanaan dan ketulusan adalah akar terkuat yang menjadi magnet kenapa jogja ngangenin bagi saya, bayangkan saja Bapak yang mbecak cuma menawarkan 10ribu untuk mengajak kami keliling ke Bakpia 25 dan ke sentra kaos dagadu padahal jauh lho, saya yang terbiasa di sini di mana kebanyakan orang sudah menaikkan tarif jasanya apabila dia rasa dia memberikan jasanya lebih otomatis jadi ikhlas buanget buat sedikiit membagi rezeki untuk si Bapak.

Tak lupa saya mengajak dimas, sepupu saya mampir ke benteng Vrederbug dan sekitarnya.
Dimas seneng banget bisa naek becak, keren katanya -___-
Pesona Jogja memang tak akan pernah pudar, pesona kesederhanaan, budaya maupun alamnya yang menakjubkan.
Visit jigja 2013-2014!! haha...
Next week iam coming home.. yeah :D


You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)