Dripping, Cara Sempurna untuk Menikmati Kopi Indonesia Berkualitas

Selamat Siang. Tahukah teman-teman bahwa hanya Indonesia yang punya cita rasa kopi yang sangat beragam dan khas dari tiap daerahnya? Negara penghasil kopi lainnya seperti Kenya dan Brazil memiliki rasa kopi yang sama pada tiap jenis kopi yang mereka miliki. Sementara itu, kopi lokal Indonesia rasanya macam-macam. Ada yang menonjol asamnya dan ada juga yang terasa fruity. Pilihannya pun banyak, ada Toraja, Gayo, Kintamani, Mandailing, Flores Bajawa dan banyak lagi. Duh, ngomongin ini jadi kangen ngopi, bentar lagi seduh drip bag coffee yang Flores Bajawa ah.
Saya tahu cerita tentang kopi ini tentu bukan dari belajar sendiri, tapi dari Presiden Direktur Twind Coffee, Pak Stephen Lo. Kebetulan hari Minggu akhir Juli lalu saya ikutan launchingnya Drip Coffee dari Twind di Ruang Tengah Cafe, Sarinah. Seneng banget bisa ikutan acara ini karena saya jadi tahu cara bedain kopi luwak yang bener-bener dari luwak liar, nyimak dongeng panjang tentang perjalanan sejarah kopi, dan juga jadi ngerti gimana cara bikin kopi selain V60.

Membedakan Biji Kopi Luwak Liar dan Biji Kopi Luwak Hasil Ternak

Saya datang ke Ruang Tengah sebelum acara dimulai. Jadilah ngobrol-ngobrol dulu sama teman sesama blogger. Kemudian Mba Ade dari Twind mendatangi kami dan ngasih lihat biji kopi yang masih kotor. Iya masih bercampur sama kotoran luwak, kita diminta nyium aromanya. Meski sempat curiga, saya beraniin aja mengendus si biji kopi yang bercampu eek luwak itu. Ternyata nggak bau sama sekali lho. Penyebabnya karena lambungnya si luwak punya zat khusus yang menyebabkan kotorannya tak berbau.
Abis itu kami dibawakan dua piring kecil bebijian kopi. Ternyata keduanya berisi kopi yang sudah dikonsumsi luwak. Tapi kali ini yang sudah bersih. Warna biji kopi dari luwak yang liar benar-benar merata. Mungkin karena mereka happy ya. Jadi balance gitu warnanya rata. Sedangkan warna biji kopi luwak yang diternak agak beda-beda gitu.

Rupanya warnanya berbeda karena luwak liar hanya mau memakan cherry kopi yang sudah benar-benar matang saja. Sementara luwak yang diternak bisa saja mengkonsumsi cherry yang belum tentu matang sempurna, karena luwaknya cuma makan yang disediakan saja.

Kopi Yang Bagus yang Seperti Apa?

Saya kadang bingung kopi yang berkualitas itu yang gimana? Lain halnya tentang kopi yang enak, karena enak nggaknya kopi itu tergantung banget sama selera. Personal taste.

Kopi yang bagus adalah kopi yang aromanya kuat dan berkafein rendah. Kopi robusta yang biasanya ditanam di dataran yang relatif rendah memang rawan berkafein tinggi. Ini karena molekul aroma pada tanaman kopi dataran rendah kalah cepar dengan molekul kafein. Ternyata kopi musti dibahas dari sisi kimia juga ya, ngomongin molekul. 
Banyak kan yang takut minum kopi karena kawatir bikin deg-degan atau bikin asam lambung naik. Buat yang gampang deg-degan saat minum kopi, jangan lupa pilih yang berkafein rendah. Kopi dari Twind biasanya kadar kafeinnya sekitar 1-3%, sementara kebanyakan kopi robusta di sini kadar kafeinnya 3-4%. 

Sedangkan yang bikin maag atau asam lambung naik itu biasanya kalau kopinya masih bergetah. Misalnya dipetik saat masih hijau.

Beda Cara Seduh Kopi, Beda Cita Rasa

Saya bener-bener baru tau di acara ini kalau ternyata rasa kopi yang dibuat dengan cara berbeda, hasilnya juga beda. Pertama saya coba kopi yang diseduh dengan V60. Rasanya mantep dan enak-enak aja. Kopinya kerasa fruity gitu. Saya lupa jenis kopinya. Setelah itu saya coba cicip kopi yang sama tapi yang dibuat dengan frenchpress. Rasanya lebih tajam dan lebih berat dari yang dibuat dengan V60. Begitu pula saat mencoba kopi sejenis yang diseduh dengan aeropress, makin tajam dari yang frenchpress. Jadi hasil seduhan V60-lah yang paling light.
Aeopress

Kopi hasil seduhan V60-frenchpress-aeropress

Drip Coffee, Trend Coffee Generasi Ke-3 (Third Wave)

Kita skip cerita panjang sejarah kopi ya. Langsung saja lompat ke tahun 2000, saat Erna Knutsen di Amerika kembali mengusung spesialty coffee yang kemudian dipopulerkan oleh SCAA sebagai 3-rd wave coffee. Jadi dari trend saat itu dengan kopi bubuk, latte art, kemudian kembali ke manual brew. Lalu lahirlah penyajian kopi dengan dripping. 

Drip bag pertama kali diperkenalkan di Jepang dan kemudian populer di beberapa negara di Asia Timur. Tepat pada Agustus tahun lalu, Twind ikut serta meramaikan produk dirp bag di Indonesia.

Ternyata di Indonesia ada juga beberapa produk drip bag di pasaran. Aroma saat dalam bungkus kemudian dihirup relatif sama. Tapi ketika dibuka kantongnya, beda sekali aroma kopi yang ada di dalamnya. Bagnya juga beda kualitasnya. Jadi kalau teman-teman pengen nyoba drip bag coffee, saya sarankan pilih yang kualitasnya bagus ya. 

Dari informasi Pak Stephen, drip bag dari Twind diproduksi dengan teknologi Jepang sehingga zipper dan filternya lebih kuat. Kualitas baik rasa dan aroma, keduanya terjaga.
Twind Coffee punya cafe di Serpong, tapi kalau teman-teman tinggal di Jakarta bisa ke Sarinah aja. Di Ruang Tengah koleksi produk Twind sudah lengkap. Dari  Mandheling, Flores Bajawa, Bali KIntamani, Garut dan Luwak Liar, semua tersedia. Khusus untuk produk Luwak Liarnya ada gift set gitu. Tujuannya untuk menyasar wisatawan asing yang suka berbelanja oleh-oleh di Sarinah. Twind memang ingin mengangkat kopi lokal Indonesia ke level tinggi di kancah internasional.

Bukan hanya teh Indonesia, kopi kita pun tradisinya dari warisan jaman Belanda. Sehingga kebanyakan yang dijual di pasaran lokal adalah yang kualitas rendah. Padahal kopi lokal Indonesia kalau cara pengolahannya benar nilainya di lelang kopi internasional bisa jauh di atas kopi-kopi ternama yang sudah lebih dulu mendunia. 

Hal yang paling saya suka dari Twind adalah kemitraan mereka dengan petani lokal. Pak Stephen yang sangat peduli dengan keseimbangan kimiawi, karena bagi beliau kopi itu erat dengan kimia, menjaga kualitas kopi dengan hanya membudidayakan di daerah terbaik. Salah satunya di Kayu Aro, Kerinci. Beliau juga menyebarkan cara mengolah kopi yang benar, misalnya dengan tidak menjemurnya di atas tanah langsung supaya kopinya tidak bau tanah.
Nah, balik lagi ke drip bag, saya udah nyobain bikin di rumah. Gampang betul. Plus enak banget. Komposisinya pas. Aryo juga sempat saya bekali sebungkus kopi yang diroasting Twind, langsung habis dalam 3 hari saja. Enak banget katanya. Bagi yang pemalas atau yang belum jago racik kopi seperti saya, cobain drip bag deh.
Dua drip bag terakhir T^T
Penyimpanan drip bag coffee gampang banget, bisa ditaruh di suhu ruangan. Karena kualitas packagingnya yang sudah oke, jadi kualitasnya masih terjaga ketika diseduh. 

Pamer OOTD pas saya ke ruang tengah dulu ya. Karena temanya produk lokal, jadi saya pakai brand lokal semua nih untuk outfitnya. Masih "dare to re-wear," saya pakai baju-baju lama yang sudah sering dipakai. Tapi masih lumayan chic juga kan? Hihi. Yuk sayangi lingkungan dengan nggak boros dan konsumsi produk lokal. :D

4 comments:

  1. drip kopi ini semacam teh celup yo?
    aku belum pernah nyoba sih
    paling sering pake metode v60

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mirip sama-sama pakai kantong, tapi kantong drip bag terutama yang punya twind ini seratnya jauh lebih bagus. DIseduhnya nggak dicelup, tapi kayak nuang pas bikin V60 gitu di kantongnya yang udah kebuka dan tinggal dikaitin di kanan kiri gelas :D

      Delete
  2. cantiik ootd nya,,,

    wah kamu jadi makin ekspert perkopian nih Nia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi Sist, hihi iya ni jadi ngilmu kopi di eventnya twind :D

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)

Powered by Blogger.