Redefining Myself at Trizara Resorts

At the beginning of the year, I already zoned out and feel bored with my daily activity. May be I was restless. Drowned with my main job on weekdays and didn't have enough time to contemplating on weekends. Too busy to meet people even though I already knew that I need my alone time more than others. Luckily, before the condition getting worse, I was asked to spend 2 nights at Trizara Resorts for Glamour Camping. I had never heard about the place before, but "GLAMPING" sounds enjoyable. 
After I googled the resort and found many big tents in it, I feel excited and said yes to join the glamping. It's been a long time since my last camping at the mountain. But due to my current circumtances, I have no friend with the same gender as me to climb the mountain. So, glamour camping at Trizara surely a good deal for me. Tent and nature. Feels like home. Because my parents house is also surrounded by trees. 

Ternyata nulis Bahasa Inggris bikin lama mikirnya. Jadi mari kita lanjutkan dengan Bahasa Indonesia aja ya supaya lebih cepat. Haha. 

Perjalanan ke Trizara Resorts mendatangkan kenangan tersendiri bagi para blogger yang berangkat dari Jakarta. Bus yang seharusnya menjemput kami pada pukul 08:00, terlambat dan baru datang puku 11:00 karena terkena macet. 
Sebenarnya saya nggak bisa datang on time saat itu. Pada dasarnya saya cukup stress untuk selalu berusaha on time pada semua kegiatan, haha. Tapi ternyata bukannya telat, saya justru harus nunggu sembari memberikan support moril dan doa pada Mba Nanda dari Kanca Digital dan Mba Tracy yang sibuk menghubungi Pak Supir. 

Dari sini saya belajar kembali untuk mensyukuri momen yang sedang berlangsung. Dari menunggu, saya jadi bisa sarapan dulu karena tadi pagi belum sempat. Sambil duduk santai ngeteh dan ngobrol dengan Mba Andiyani serta Winda. Ngobrol kadang menjadi terapi sehingga para wanita lebih lega. Juga mempererat hubungan orang-orang yang terlibat. 

Lalu di tengah perjalanan saya bingung kenapa bus ini nggak lewat tol yang biasanya. Dari situlah saya dan teman-teman baru sadar bahwa perbaikan Jembatan Cisomang belum selesai dan bus belum diizinkan melintas. Kendaraan terbesar yang boleh melintas adalah elf. Jadi bus yang kami tumpangi harus lewat Subang untuk menuju Lembang. Jalanan yang berliku membuat beberapa teman saya mual. Waktu tempuh pun molor drastis hingga 7 jam.
Penat setelah seharian di bus perlahan luntur ketika kami sampai di Trizara resorts dan melihat gerbangnya yang megah. Jadi makin pensaran tendanya seperti apa. Beruntung sekali, Mr. Kunal, owner Trizara Resorts, mendatangi meja kami satu per satu. Dari obrolan seru dengan beliau mulai dari bagaimana beliau mendapat ide bisnis ini hingga cerita tentang birokrasi mengurus perizinan resort, ada satu kalimat yang paling membekas dalam ingatan saya. He said I should share what I feel while spending my time at Trizara. The words really affected me. I open my sense to feel more than I usually did. The place and the nature scenery were really great. Woke up my sense to feel instead of always thinking like I always do. 
Saya, Mba Andiyani, Winda dan Ingga berbagi satu tenda di Nasika yang berkapasitas untuk 4 orang. Nasika artinya mendengar. Dari Bahasa Sansekerta. Katanya dari sini bisa terdengar suara anak-anak yang bermain. Malam itu saya sih malah dengernya suara burung hantu muda (suara burung hantu sepuh beda lagi), yang sudah lama banget tak pernah saya dengar. Mungkin sudah bertahun-tahun. Bukannya takut, suara burung itu justru mengingatkan saya pada masa kecil menyenangkan di desa. 
Bed-nya ada dua, ini ngumpul untuk keperluan foto sahaja biar kelihatan ikrib ;)
Tenda di Trizara Resorts memiliki fasilitas toilet dan kamar mandi yang luas. Tak kalah dengan hotel mewah. Shower air panas dan aneka keperluan kamar mandi sudah tersedia lengkap. Handuk diganti setiap hari. Tempat tidurnya juga sangat nyaman dengan selimut super hangat beratapkan bintang-bintang. Langit-langitnya ada gambar bintang-bintang gitu. No TV, lagian saya emang super jarang lihat TV. Kalau wifi dan colokan ada dan banyak. Tapi sayang kan kalau jauh-jauh ke tempat cantik ini malah main gadget? 

Morning Routine

Banyak artikel kesehatan yang menyatakan bangun pagi sebelum matahari terbit itu menyehatkan dan membahagiakan. Saya kadang melewatkan momen sakral ini karena tidur lagi setelah shalat. Malas untuk bergegas ke kantor. Begitu terus siklusnya, makin nggak bangun pagi makin nggak bahagia dan malas-malasan. 
Sejak pagi pertama di Trizara, saya bisa bangun pagi karena tertarik untuk berburu foto sunrise. Sunrise di Trizara apik sekali, terutama di pagi pertama saya di sana. Semburat sinar mentari yang muncul perlahan mengajak embun untuk beranjak, memberikan sedikit kehangatan di sela dinginnya udara pegunungan yang menyergap. 
Selepas pulang dari menunggui matahari muncul, saya akan membuat teh manis hangat sembari menunggu waktu olahraga pagi. Namanya juga glamour camping, kita tinggal menikmati saja. Semua fasilitas lengkap-kap. Yoga dan zumba menjadi rutinitas di sana tiap pukul 7 pagi. Saya berpartisipasi dengan senang hati pada kedua aktivitas ini. Padahal kalau di Jakarta, saya pasti gagal menjalankan komitmen olahraga pagi. Karena sudah jarang menikmati pagi yang pelan dan santai, saya merasa lebih bahagia.  
Ternyata untuk saya yang sulit berkomitmen pada diri sendiri, harus dekat dengan alam dulu dan diberikan jadwal rutin yang berkaitan dengan orang lain supaya menjalani rutinitas dengan bahagia. Routine isn't bad for me. I can deal with it! Thanks Trizara, I could find back my responsibility to self dicipline from the activities. Each morning at Trizara was a great time. Mungkin karena saya berada di taman surga, arti kata Trizara dalam Bahasa Sansekerta.
Sebenarnya bangun pagi-pagi di Trizara lebih sulit dari bangun pagi di Jakarta yang gerah. Dengan suhu yang sangat dingin, selimut di sana sangat nyaman. Super tebal, lembut dan hangat. Ketika tidur di malam hari saya tak pernah terbangun karena kedinginan. Padahal kalau keluar dari selimut langsung menggigil lho. 

Participation Might Open The Chance for Being Happy

Mungkin beberapa teman-teman yang mampir di blog ini dan pernah bertemu saya menyimpulkan saya anaknya apatis. Sebenarnya saya nggak secuek itu kok kalau saya memang tertarik dengan suatu kegiatan. Tapi sayangnya saya memang jarang excited pada sesuatu, hehe. Saat di Trizara Resorts, kami diajak berbagai kegiatan outdoor yang mengharuskan partisipasi, antara lain memanah, paintball, dan off road. 
Saya cukup antusias dengan memanah karena memang sudah pernah ikut kelas memanah di Senayan. Tapi ternyata aktivitas memanah di Trizara ini bukan sekadar membidik target. Kami dibagi dalam tim dan harus bertanding. Saya mendapati diri saya penuh perhitungan dalam permainan ini. Kebanyakan bersembunyi. 
terlalu lama sembunyi~~ 
Sementara itu Shara, travel blogger asal Australia yang satu tim dengan saya, sangat berani maju ke depan. Dia benar-benar bersenang-senang. Setelah melihatnya saya jadi ikut semangat dan ingin segera memanah target musuh. Tapi ternyata saya keburu kena panah. Yasudah saya melihat saja dari pinggir. Setelah itu saya mulai merasa excited dan lebih semangat untuk berpartisipasi di kegiatan lainnya.

Sorenya kami diajak offroad. Kami naik mobil sejenis jeep. Pemandangan kebun teh dan hutan pinus Sukawana menyambut kami. Event organizernya mengizinkan kami untuk berfoto dulu di sini. Semua serba hijau, membuat saya merasa penuh energi karena dekat dengan alam. 
Lepas dari sana perjalanan berubah drastis menjadi penuh guncangan dengan jalanan berlumpur. Karena mobil yang kami tumpangi ada di paling belakang, kami bisa melihat mobil lain meliuk liuk ke kiri dan ke kanan. Agak seram sebenarnya, saya khawatir mobil itu tidak bisa keluar dari lumpur atau terbalik. Kami harus berpegangan setiap waktu supaya tidak terlempar dan menubruk teman lainnya. Saya mulai berpikir ngapain sih repot-repot beginian digoncang-goncang berjam-jam. Ketahuan banget ya saya anaknya nggak lepas dan terlalu banyak berpikir. Haha.
Teman se-per-offroad-an :D
Seperti pengalaman yang sudah-sudah, kalau sudah mulai apatis dan mempertanyakan apa yang sebenarnya saya lakukan, saya akan menganalisis pikiran tersebut, mencari penyebabnya, kemudian mencari alasan kenapa saya harus menikmati keadaan saat itu. Kemudian saya memilih spontanitas sebagai solusi supaya saya lebih menikmati offroad trip. Toh barangkali saya tak akan pernah mendapatkan kesempatan yang sama untuk offroad di hutan cantik ini. Maka setiap mobil berhenti saya meloncat keluar dari mobil dengan Winda. Foto-foto dan melihat mobil lainnya yang melintas. Kemudian kabut turun dan suasana semakin mencekam. Teriakan setiap mobil bergoncang pun makin kencang.
Di penghujung perjalanan, kami mendapati kios-kios yang menyediakan aneka makanan hangat dan toilet. Saya segera memesan mie instan dan susu jahe, seperti teman-teman lain yang sudah duluan memesannya. Mie instan dengan taburan cabai di udara dingin yang berkabut tentu merupakan sajian mewah yang tiada bisa disanggah kenikmatannya. Saya bahagia, saya rela digoncang-goncang lagi dalam perjalanan pulang nanti. Haha.
Di sana saya melihat dua anak kecil yang kemudian saya tahu ternyata mereka saudara sepupu. Mereka bergembira di udara dingin dan bermain dengan tanah lembab di sana. Pakaian yang mereka kenakan menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa teman blogger, termasuk saya mengajak ngobrol duo adik kecil ini. Mata mereka berbinar penuh kegembiraan. Simplicity is surely the source of their happiness. 
Spot tersembunyi yang ditemukan bareng Winda gulanyagulali.com
Sebagian teman-teman blogger mendaki ke benteng yang ada di atas bukit. Saya dan Winda kemudian mencari aktivitas supaya tak kedinginan menunggu karena kami tak ikut hiking. Setelah bermain jungkat jungkit sederhana yang terbuat dari batang pohon, kami menemukan spot-spot foto bagus. Explore surrounding unpredictly exciting. 
Sebelum lengser keprabon karena takut :p
Esoknya ketika paintball, saya tak berani ikutan karena takut kena tembak. Ini gara-gara tim saya dapat giliran tanding yang kedua. Jadi saya sudah takut duluan sewaktu melihat pertandingan tim satu dan dua. Tapi kemudian saya ikut paintball dengan teman kantor keesokan harinya. Kebetulan ada workshop kantor saya di Trizara juga di hari berikutnya. Jadi saya menginap di sana 4 malam! Haha. Kalau saya tak punya kesempatan paintball yang kedua, saya yakin saya akan menyesal karena tak mencobanya. 
Akhirnya berani tanding paintball beneran...
Saya menyadari ternyata di dalam diri saya masih ada seorang anak kecil yang penakut. Si insecure yang takut mencoba hal baru. Lain kali saya akan memaksa menceburkan diri untuk berpartisipasi di kesempatan yang datang sekalipun itu adalah hal menantang. Yah, meskipun palingan saya tetep nggak berani naik roller coaster. Hihihi. Tapi paling tidak saya tahu bahwa saya bisa saja menjadi Squidward Tentacel yang menyebalkan dan datar jika tidak mau terjun pada kesenangan yang datang.

The Food at Trizara Resorts

Hal lain yang menyenangkan di Trizara adalah makanannya. Menurut saya masakannya memiliki cita rasa rumahan. Kesannya sederhana tapi berkesan bagi saya yang jarang sekali masak makanan rumahan kecuali masak sendiri. Jadi salah satu hal membahagiakan bagi saya ternyata adalah makanan rumahan. Senang sekali bisa makan masakan rumahan 5 hari berturut-turut di Trizara. 
Kenapa yang dipajang bukan foto masakan rumahan? Semata-mata demi kepentingan estetika, sama biar pada penasaran :p
Oiya kopi picollonya sangat recommended di sana. Selain Mr. Kunal sendiri, Mba Windy Ariestanty pun merekomendasikannya saat mengisi workshop acara kantor.

One Good Memory

photo from griskagunara.com

Hal terbaik selain bisa menghabiskan waktu di tenda super nyaman Trizara dengan pemandangan indah adalah pertemuan dan kebersamaan dengan para blogger yang ikut serta dalam acara ini. Tiap momen mendatangkan keakraban dengan mereka. Tak ada satu pun yang sombong atau merasa lebih. Padahal kebanyakan travel blogger terkenal lho. Semuanya sangat ramah dan menularkan aura positif untuk bersenang-senang bersama di setiap kegiatan. Jujur ini jarang banget saya temui. 
Photo from +Griska Gunara 
photo from +Etaporama 
photo from inggabia.com
Happy picnic time (photo from griskagunara.com)

Packing For One Week At Trizara

Apa yang kalian bawa ketika menghabiskan waktu 5 hari di luar kota? Bawa koper? Nope. Saya bawa carrier khusus wanita dan satu goodie bag. Bawaan saya adalah 3 baju, 3 t-shirts, 3 celana plus 1 celana olahraga, 4 jilbab, 3 inner jilbab, 2 kaos kaki, sandal, seneakers, dan 1 jacket yang memang jadi seragam kantor tapi sudah saya bawa sedari senin. Dengan itu semua saya berhasil survive dan masih keliatan ganti-ganti baju saat difoto. Penting ya "kelihatan ganti-ganti" saat difoto. 

Last Words

Jadi, apa yang saya dapatkan dari menginap di Trizara selain senang-senang? Tentu saja saya menemukan beberapa hal penting yang sering saya lupakan karena rutinitas. Bagaimana menikmati setiap suasana, berbahagia dalam kesederhanaan, berani mengeksplore lingkungan sekitar dan mencoba hal baru, serta jangan jadi membosankan atau saya akan menjadi segaring Squidwards Tentacel. Kadang-kadang saya berharap saya bisa tinggal dan bekerja di lingkungan yang masih sangat alami seperti Trizara Resorts. Dekat dengan alam memang selalu menyehatkan jiwa dan raga. 

Trizara Resorts
Please visit http://www.trizara.com/ for details about rate, location, contact etc :)

39 comments:

  1. Wah Kamu sempet makan mie ya di warung itu, ya ampun pengen Balik lagi ya ke trizara nongkrong depan kamar lama2 hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa dateng2 langsung pesen mie nih Mba :D

      Delete
  2. Pas awal baca kirain dari head to toe pake English ni :D Trizara keren yak, enak buat kumpul keluarga akren abanyak fasilitasnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pengennya English full Mba, tapi makin lama kok makin melankoli bahasaku. Makanya aku balik ke Bahasa Indonesia aja. Haha. Iya ini seru buat ajak liburan Yaya kalau udah gedean Mba :D

      Delete
  3. Oh jadi kalian sebenarnya ngak ikrib yaaa, hanya pencitraan saja ikrib nya gitu ???? #EhGimana hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aslinya ikrib beud sekali Om, hahhaaa. This is real :p

      Delete
    2. Yakin ??? ntardi belakang penuh pencitraan hahaha

      Delete
    3. Hahaha Yakin Om kalau yang mereka2 ini mah, deket lahir batin, eaa :D

      Delete
  4. Aduuuh !!!! aku baca artikel ini jadi kangen kalian semua yang keren-keren..
    ayo kita ketemu disini lagi next time, belum puas sama off roadnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo ayo, adain meet up lagi biar bisa seru-seruan bareng-bareng lagi :D

      Delete
    2. Haha iya, semoga wacana2 di grup segera terwujuud :D

      Delete
  5. Aku suka tulisan ini, berasa lebih mengenal karakter Nia yang sebenarnya :)

    Btw itu keren juga ayunan kayu di hutan Cikahuripan! Andai kita punya banyak waktu buat eksplorasi ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi ketauan dikit ya anaknya ribet dan banyak pertentangan tapi luarnya adem2 aje. Haha.

      Ayunannya bagus ya Mas kayak singgasana. Mau dong kapan2 aku ikutan hunting poto bareng :D

      Delete
  6. masih envy >,< wkwkwkwk.....yes ternyata Nia juga takut naik roller coaster :p
    klo jaman taman ria senayan masih berani naik tapi di dufan, cukup naik mini roller coaster aja wkwkwkwk *nggak nyambung*

    ReplyDelete
  7. Nia ngobrol sesama cewe itu emang terapi yaa...apalagiii ngegoossiipp #ehgimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahha, yoi musti kita sempetin sesekali ya :D

      Delete
  8. kan aku lupaaa belum coba picollo nya, kita balik lagi aja kesana apa begimana ?? hahaha :p

    ReplyDelete
  9. keceeeee bangettt, langsung cusss ke webnya :)

    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih Mba asik banget di sana, damai :D

      Delete
  10. Sayangnya aku beler banget jadi ga bisa ikutan liat sunrise. Poto morning view nya bagus bangeett kaaakk! <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi AKka Ratri Chibi, belum liat sunrise artinya harus balik ke sana lagi Kak :p

      Delete
  11. huaaaa enaknyo bangun pagi pagi liat view gituan....
    adeemmm

    btw, kapan ke lombok?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya enak banget bangun2 viewnya bagus, ga cuma nyegerin badan juga nyegerin mata. Aku pingin sekali ke Lombok Kak, semoga segera ada rezeki ya :)

      Delete
  12. waaaah terbuka lagi memori baca artikel di atas, wahai teman se-per-offroad-an :D

    ReplyDelete
  13. Viewnya cakep yaa... Suka banget yg foto pas pagi2 itu deh mbaaa.
    7 jam terbayarkan dong ya 😉 Mau deh kmariii jugaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba ngga kerasa 7 jamnya, ini asik banget buat keluarga juga oke :)

      Delete
  14. wishlist aku tahun ini moga kesampaian hehehe

    ReplyDelete
  15. Hahahahha gue suka banget bridging perpindahan dari intro bahasa Inggris ke bahasa Indonesianya. Jujur.

    ReplyDelete
  16. --suara burung hantu muda (suara burung hantu sepuh beda lagi)-- Oke aku mau nginep di Nasika biar bisa dengar suara burung hantu muda, hahahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda Kaka, tapi Kaka harus bawa aku ke sana untuk menjelaskan perbedaanya :D

      Delete
  17. Keren-keren ya pemandangan di Trizara.

    ReplyDelete
  18. membaca postingan ini bikin bumil baper kepengen liburan kesana. Masa-masa gerah ini membuat bumil ingin bersentuhan dengan udara dingiiinn......please help meeeee

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar.
Love, Nia :)

Powered by Blogger.